Asal-Usul Tempe
Kata 'tempe' sendiri berasal dari bahasa Jawa Kuno. Pada zaman Jawa Kuno terdapat makanan berwarna putih terbuat dari tepung sagu yang disebut tumpi. Tempe segar yang juga berwarna putih terlihat memiliki kesamaan dengan makanan tumpi tersebut.
Namun ada juga laporan yang menyebut proses pembuatan tempe diawali semasa era Tanam Paksa di Jawa. Ketika itu, masyarakat Jawa terpaksa menggunakan hasil pekarangan, seperti singkong, ubi dan kedelai, sebagai sumber pangan.
Kedelai itu kemudian difermentasikan menggunakan kapang Aspergillus. Selanjutnya, teknik proses pembuatan tempe menyebar ke seluruh Indonesia, sejalan dengan penyebaran masyarakat Jawa yang bermigrasi ke seluruh penjuru Tanah Air.
Cara Membuat Tempe Dan Rahasia Dibaliknya
Ada berbagai metode dalam proses pembuatan tempe. Namun, teknik pembuatan tempe di Indonesia secara umum terdiri dari tahapan perebusan, pengupasan, perendaman dan pengasaman, pencucian, inokulasi dengan ragi, pembungkusan dan fermentasi. Berikut penjelasannya!
Perebusan
Pada tahap awal proses pembuatan tempe, biji kedelai direbus. Tahap perebusan ini berfungsi sebagai proses hidrasi agar biji kedelai menyerap air sebanyak mungkin. Perebusan ini juga bertujuan untuk membuat biji kedelai lunak sehingga nantinya bisa menyerap asam pada tahap perendaman.
Pengupasan
Setelahnya masuk ke tahap pengupasan, di mana kulit biji kedelai dikupas. Hal ini agar miselium fungi dapat menembus biji kedelai selama proses fermentasi. Pengupasan ini bisa dilakukan dengan tangan, diinjak-injak dengan kaki atau dengan alat pengupas kulit biji.
Perendaman dan Pengasaman
Kemudian, biji kedelai direndam. Tujuan tahap perendaman ini untuk hidrasi biji kedelai dan membiarkan terjadinya fermentasi asam laktat secara alami agar diperoleh keasaman yang dibutuhkan untuk pertumbuhan fungi. Ciri fermentasi asam laktat terjadi adalah munculnya bau asam dan buih pada air rendaman.
Pencucian dan Inokulasi Ragi
Sementara proses pencucian akhir dilakukan untuk menghilangkan kotoran yang mungkin terbentuk oleh bakteri asam laktat dan agar biji kedelai yang tidak terlalu asam. Bakteri dan kotoran ini nanti bisa menghambat pertumbuhan fungi. Jadi harus dihilangkan.
Lalu dilanjutkan dengan inokulasi yang dilakukan dengan penambahan inokulum, yaitu ragi tempe atau laru. Inokulasi ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu disebarkan pada permukaan kacang kedelai yang sudah dingin dan lalu dikeringkan atau dengan dicampurkan langsung pada saat dalam proses perendaman, dibiarkan beberapa lama, lalu dikeringkan.
Pembungkusan dan Fermentasi
Setelah itu siapkan pembungkus seperti daun pisang, daun jati atau plastik. Masukkan kedelai tadi ke pembungkusnya. Proses fermentasi berlangsung pada suhu kamar dimana kedelai yang sudah dibungkus tersebut didiamkan selama 1-2 hari sampai seluruh permukaan kedelai tertutupi jamur. Jadi sudah tahu kan bagaimana proses fermentasi tempe? Semoga bermanfaat ya!