Pesugihan Cepat Kaya: Kisah Korban Yang Jadi Tumbal Part 2 (Bertemu Mbah Jiwo)

Pesugihan Cepat Kaya: Kisah Korban Yang Jadi Tumbal Part 2 (Bertemu Mbah Jiwo)

Ini adalah kisah korban dari pesugihan cepat kaya yang berujung tragis banget, serem banget~

Cerita sebelumnya Pesugihan Cepat Kaya Part 1

Seminggu berlalu, kesehatan Ani mulai membaik. Atan pun bergegas menyelesaikan administrasi rumah sakit dan membawa Ani pulang.

Ada yang aneh ketika hendak masuk ke dalam rumah. Ani tampak ketakutan,tak mau masuk ke dalam rumah. Saat itu Attan belum sadar kalau istrinya jadi target tumbal pesugihan cepat kaya tetangganya.

"ngopo e buk? "(kenapa mah? )

"wedi yah,nek ning gene ibuk sek ngono pie to? "(takut yah, kalo ke tempat ibuk dulu gitu, gimana?)

Ilustrasi (Inilah.com)

Seketika itu Atan paham, bahwa kemaren ada yang "ngerjain" istrinya. Karna dalam seminggu memang Ani bungkam soal apa yang menimpanya. Atan pun menyimpan tanya, dan hanya harapan semoga semua baik-baik saja.

"ngko nek tekan omah, tak omong yah. Saiki lek di tekanke, selak pegel"(nanti aku cerita yah, sekarang cepetan sampe rumah, keburu capek) jawab Ani tersengal-sengal. Karena memang masih pucat wajah Ani kala itu, dan lemas.

Sesampai di rumah ibuk, semua Ani ceritakan. Tentang siapa dan apa semua ini. Meskipun ragu, Ani tetap mengatakan spekulasinya.

"Bu Asih? Lhoh, kui kan omahe let gang pindo ko nggene dewe lho buk, kok aneh ngono yo? Iki ra beres buk! "(bu Asih? Rmhnya kan berjarak 2 gang dari tempat kita, kok aneh gitu ya? Ini ada yang ga beres). Dengan muka heran, alis yang menyatu bak emosi yang menyakinkan bahwa ini benar-benar Kejahilan gaib. 

Suara lantang Atan bersamaan langkahnya keluar rumah, "tak takokke wong pinter sek buk, ojo metu ko ngomah sek, tunggu aq muleh"(aku mau tanya orang pinter/dukun dulu mah, jagan keluar rumah dulu, tunggu aku pulang).

Emosi, buru-buru, kesedihan mendalam takut langkahnya terlambat. Atan mengegas motornya kencang menuju rumah Mbah Jiwo. Orang yang di yakini Atan sebagi orang pinter/ahli supranatural alias dukun.

Dulu waktu kecil, Atan memang sempet belajar ilmu kebatinan dengan beliau. Maka dari itu, Atan tak ambil pusing langsung menuju ke rumah gurunya itu.

Sesampai di depan teras rumah Mbah Jiwo, Atan terkejut, karena ternyata Mbah Jiwo sudah menunggunya dan bertampang sedih bak orang berbela sungkawa.

Ilustrasi mbah dukun (facebook.com)

"Assalamualaikum mbah,kulo badhe... "(salam mbah, saya mau...) "MENENGOH! Wong lanang ra cak-cek, ndue pikir kesuen! Ngopo? Ragu po? Sinau seprono seprene sih ra dong! "(DIAM!,Laki-laki ga cekatan, lamban berpikir. KENAPA?! ragu? Belajar dari dulu masih gagal paham)

Dengan membalikan badan, Mbah Jiwo menjawab salam Atan dengan nada keras. Ternyata Mbah Jiwo sudah menunggu sejak pertama kali Atan melihat istrinya kejang.

Tanpa Atan cerita, Mbah Jiwo paham apa yang sedang terjadi, bahkan lebih paham daripada Atan.

"Ono sing lagi golek tumbal, dong koe? "(ada yang sedang mencari tumbal, ngerti km?) jelas Mbah Jiwo kepada Atan sembari menghidupkan rokok lintingan. Atan yang sudah ketakutan atas keterlambatan langkah sikapnya pun hanya menunduk dan gemetar.

"Bu Asih",batin Atan. "HOOH, hahaha.. "(iya, -ketawa-) tawa menggelegar kencang ditutup dengam raut muka geram Mbah Jiwo. Atan yang terheran, karna batinnya terbaca oleh Mbah jiwo hanya tercengang menatap mbah jiwo.

"Waaannniii koee?? Aasuuu laaknat!! "(berani kamu? Anjing laknat!) teriak Mbah Jiwo sambil menunjuk arah depannya, pintu rmhnya. Atan yang duduk di sampingnya terkaget dan mundur.

Sesosok Anjing berbulu hitam pekat dan sedang mencengkram kepala di kakinya. Besar dan berdiri tegak bak manusia berada di depan matanya.

Tak lama, sosok itu lari menjauh. 

"koe ngerti Tan? Kae mau sing meh mangan bojomu! Bojomu wes dadi sasaran tumbal pesugihan, yoiku tonggomu, Asih"(ngerti kamu Tan, tadi adalah sosok yang memakan mau memakan istrimu! Istrimu sdh jadi sasaran tumbal pesugihan, tetanggamu, Asih)

"aku kudu pie mbah? Aku wegah nek kudu kon kelangan ibune anaku! "(aku harus gimana mbah, aku ga mau kalo harus kehilangan Ani) ."telat Tan, aku gur iso nahan, ora iso ngilangi, kebacut jero"



Facebook Conversations


"Berita ini adalah kiriman dari pengguna, isi dari berita ini merupakan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengguna"