Patah hati secara ilmiah ternyata bisa dibuktikan mempengaruhi sistem imun. Dan, patah hati itu nggak cuma urusan pribadi, tapi mempengaruhi kehidupan sosial seseorang. Kok bisa? Begini para ilmuan menjelaskan!

Pernah mengalami patah hati? Patah hati nggak selalu perihal hubungan asmara. Rasa kecewa terhadap sesuatu juga bisa disebut dengan patah hati. Pun sesaat setelah melakukan kesalahan juga bisa disebut dengan patah hati. Jadi, patah hati itu bagaimana? Berdasarkan pemaparan ilmiah, patah hati itu sebuah sindrom yang mengganggu kinerja tubuh, termasuk fisik dan psikologis. American Heart Association menjelaskan bahwa sindrom patah hati menyebabkan jantung membengkak dan sistem pompa tidak normal. Terjadi juga kontraksi tertentu yang bisa menyebabkan otot jantung gagal memompa darah. Ini berlangsung sejenak sehinga berpengaruh besar pada kesehatan.

Patah hati secara ilmiah mempengaruhi kesehatan seseorang. Apa saja yang terjadi ketika seseorang patah hati?

1. Patah hati mempengaruhi berat badan

Pada sebagian besar orang patah hati mempengaruhi pola makan. Ini dilakukan untuk memenuhi emosi. Makan banyak dianggap bisa mengisi kekosongan dan menyebabkan berat badan naik. Beberapa orang merasakan sebaliknya. Nafsu makan menurun dan menyebabkan kebutuhan nutrisi pada tubuh kurang. Setelah patah hati, disarankan tetap menjaga berat badan normal. Meski banyak makan atau kurang makan, tetapi harus bisa memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh dengan tanpa bikin berat badan naik drastis.

Nggak doyan makan (healthine.com)

2. Menyebabkan depresi

Kombinasi perasaan yang buruk dan merasa terhina mendorong seseorang berada pada fase stres. Menurut psikiatris Kenneth S. Kendler, M.D. saran yang mesti ditempuh setelah patah hati adalah dengan mendapatkan dukungan dari seseorang. Bisa membagi perasaan dan obrolan terbuka bisa memperbaiki fase depresi yang buruk. 

3. Persoalan pada tidur

Setelah patah hati, beberapa orang melaporkan bahwa ia susah tidur dan tidur terlalu lama. Penelitian menemukan bahwa level stres meningkat ketika patah hati. Peningkatan level stres bisa menyebabkan berbagai problem, khususnya persoalan pada tidur. Peneliti spesialis tentang tidur, Chris Winter, M.D. juga membetulkan kondisi tersebut. Stres dan tidur itu seperti pasangan yang nggak bisa dipisahkan selamanya. Stres pengaruh ke tidur, dan kurang tidur bisa meningkatkan level stres. 

Setelah patah hati, seseorang sangat mungkin mengalami persoalan pada tidur. Baik waktu tidur yang terlalu sedikit atau terlalu banyak menghabisakan waktu untuk tidur. Untuk menurunkan level stres, sebelum tidur lakukan aktivitas yang memudahkan terlelap. Misalnya dengan meditasi, minum teh, olahraga atau menulis jurnal harian. Aktivitas tersebut cukup populer bisa membuat seseorang nggak sulit tidur lagi. 



Berita ini adalah kiriman dari pengguna, isi dari berita ini merupakan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengguna

Facebook Conversations