Cerita Seram Gorontalo: Hantu Pogo Part 2 (Final)

Cerita Seram Gorontalo: Hantu Pogo Part 2 (Final)

Lanjutan cerita Ponggo Hantu khas Gorontalo

fikirnya mungkin Husin sudah selesai menjahit. Suara gagak yang didengar Om Muhlispun kini terdengar samar-samar, Om Muhlispun agak lega, hingga matanya secara tidak sengaja tertuju di atap mmah Husin. 

Alangkah terkejutnya Om Muhlis ketika saat itu dia sadar bahwa sosok makhluk berambut panjang, tanpa busana, dengan lidah menjulur panjang keluar, sedang mengamati dia dengan bola mata sebesar pingpong. 

Makhluk itu bertengger di sela-sela atap rumah dengan tiang antena rumah si Husin, dengan posisi jongkok (Posisi katak). Om Muhlis pun terdiam kaku dicekam ketakutan yang sangat besar. 

Ilustrasi (YouTube.com)

Ayat kursi, al-ikhlas, adalah ucapan pertama yang spontan keluar dari bibirnya. Dia tidak dapat bergerak seketika. Hampir sekian detik dia bertatapan dengan makhluk jadi-jadian tersebut, sampai ketika dia sadar kalau makhluk itu sudah hilang dengan mninggalkan teriakan yang kencang. Om Muhlispun dengan segera melompat dari tembok, dan berlari cepat menuju rumannya. 

Dia tak sadar kalau kunci garasinya belum dicabut dari grendel pintu garasi. Om Muhlis sudah tidak peduli, dia ketakutan. Dua hari setelah kejadian itu Om Muhlis belum cerita apa-apa kepada istrinya tentang apa yang dilihatnya malam itu. 

Hingga saat 3 hari setelah kematian Husin kemudian dia membeberkannya kepada masyarakat (Cerita ini saya dengar dari om Muhlis langsung). Mendengar kejadian itu, awalnya saya tidak begitu percaya, hingga pengalaman saya dua tahun yang lalu membuktikannya. 

Pada bulan Oktober tahun 2009, warga di kampung sebelah kembali digegerkan dengan kabar mengerikan, yakni seorang ibu yang berprofesi sebagai tukang pijit diduga warga adalah makhluk jadi2an atau Ponggo. 

Saat itu saya masih duduk dibangku kuliah, semester 2 jurusan akuntansi dan bertepatan dengan minggu-minggu menjelang UAS (Ujian Akhir Semester). Dari kecil saya sudah tinggal bersama tante-tante saya. Rumah kami terletak 100 meter dari jalan raya, melewati gank selebar 3 meter. 

fikirnya mungkin Husin sudah selesai menjahit. Suara gagak yang didengar Om Muhlispun kini terdengar samar-samar, Om Muhlispun agak lega, hingga matanya secara tidak sengaja tertuju di atap mmah Husin. Alangkah terkejutnya Om Muhlis ketika saat itu dia sadar bahwa sosok makhluk berambut panjang, tanpa busana, dengan lidah menjulur panjang keluar, sedang mengamati dia dengan bola mata sebesar pingpong. 

Ilustrasi (CIAYO Comics)

Makhluk itu bertengger di sela-sela atap rumah dengan tiang antena rumah si Husin, dengan posisi jongkok (Posisi katak). Om Muhlis pun terdiam kaku dicekam ketakutan yang sangat besar. Ayat kursi, al-ikhlas, adalah ucapan pertama yang spontan keluar dari bibirnya. Dia tidak dapat bergerak seketika. Hampir sekian detik dia bertatapan dengan makhluk jadi-jadian tersebut, sampai ketika dia sadar kalau makhluk itu sudah hilang dengan mninggalkan teriakan yang kencang. Om Muhlispun dengan segera melompat dari tembok, dan berlari cepat menuju rumannya. 

Dia tak sadar kalau kunci garasinya belum dicabut dari grendel pintu garasi. Om Muhlis sudah tidak peduli, dia ketakutan. Dua hari setelah kejadian itu Om Muhlis belum cerita apa-apa kepada istrinya tentang apa yang dilihatnya malam itu. 

Hingga saat 3 hari setelah kematian Husin kemudian dia membeberkannya kepada masyarakat (Cerita ini saya dengar dari om Muhlis langsung). Mendengar kejadian itu, awalnya saya tidak begitu percaya, hingga pengalaman saya dua tahun yang lalu membuktikannya. 

Pada bulan Oktober tahun 2009, warga di kampung sebelah kembali digegerkan dengan kabar mengerikan, yakni seorang ibu yang berprofesi sebagai tukang pijit diduga warga adalah makhluk jadi2an atau Ponggo. 

Saat itu saya masih duduk dibangku kuliah, semester 2 jurusan akuntansi dan bertepatan dengan minggu-minggu menjelang UAS (Ujian Akhir Semester). Dari kecil saya sudah tinggal bersama tante-tante saya. Rumah kami terletak 100 meter dari jalan raya, melewati gank selebar 3 meter. 

fikirnya mungkin Husin sudah selesai menjahit. Suara gagak yang didengar Om Muhlispun kini terdengar samar-samar, Om Muhlispun agak lega, hingga matanya secara tidak sengaja tertuju di atap mmah Husin. Alangkah terkejutnya Om Muhlis ketika saat itu dia sadar bahwa sosok makhluk berambut panjang, tanpa busana, dengan lidah menjulur panjang keluar, sedang mengamati dia dengan bola mata sebesar pingpong. Makhluk itu bertengger di sela-sela atap rumah dengan tiang antena rumah si Husin, dengan posisi jongkok (Posisi katak). Om Muhlis pun terdiam kaku dicekam ketakutan yang sangat besar. 

Ayat kursi, al-ikhlas, adalah ucapan pertama yang spontan keluar dari bibirnya. Dia tidak dapat bergerak seketika. Hampir sekian detik dia bertatapan dengan makhluk jadi-jadian tersebut, sampai ketika dia sadar kalau makhluk itu sudah hilang dengan mninggalkan teriakan yang kencang. Om Muhlispun dengan segera melompat dari tembok, dan berlari cepat menuju rumannya. 



Facebook Conversations


"Berita ini adalah kiriman dari pengguna, isi dari berita ini merupakan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengguna"