Cerita Seram dan Menakutkan Nyata Istana Paku Bulan Part 3 (Rumah Misterius)

Cerita Seram dan Menakutkan Nyata Istana Paku Bulan Part 3 (Rumah Misterius)

Ini adalah cerita seram dan menakutkan nyata tentang Istana Paku Bulan, katanya sih berdasarkan kisah nyata gitu, hiii~

Kisah sebelumnya di Part 2

Cerita seram dan menakutkan nyata Istana Paku Bulan berlanjut~

"lah, kulo ketemu pak Tarjo niki."

(Oh, saya itu orang dari daerah **** pak. Saya sedang mencari tempat yang alamatnya di sekitar desa ini. Tapi sepertinya saya kesasar, dan bertemu pak Tarjo ini).

"Owalah. Lha terus piye iki Jo? Kowe sido melu njaring opo ora?"

(Terus gimana ini Jo? Kamu jadi ikut njaring gak?)

Dhe Muin menanyakan hal itu pada lek Tarjo, tapi juga menaruh curiga dengan orang asing itu.

ilustrasi (veronicabonleon.blogspot.com)

"Oh, nggih mboten nopo-nopo pak. Monggo mawon yen badhe njaring. Kulo nggih nembe sanjang kalih pak Tarjo, menawi angsal kulo sekalian nderek"

(Tidak apa-apa pak. Silakan saja kalau ingin menjaring. Saya juga baru bilang sama pak Tarjo, kalau diijinkan saya sekalian ikut saja).

"Lha tujuanmu priye? Kok malah meh melu njaring?"

(Tujuanmu bagaimana? Kok malah ikut menjaring?)

Orang itu sedikit bingung memberi jawaban.

"Lha pripun pak? Kulo mpun kedalon niki, menawi kulo wangsul, nggih kulo mangke malah mboten saget madosi alamat ini"

(Gimana ya pak? Saya sudah kemalaman ini, kalau saya pulang, nanti malah saya tak bisa menemukan alamat ini).

"Ora! Ojo melu. Ngendi alamate? Tak uduhi"

(Tidak! Jangan ikut. Mana alamatnya? Saya antar)

Orang itu terdiam sejenak, tak tau harus mengatakan dengan jujur, atau harus mencari alasan lain.

Namun, belum sampai orang itu menjawab, dari belakang dhe Muin muncul dhe Sa'an.

Dhe Muin sedikit memperhatikan dhe Sa'an.

"Lha kowe. Ngopo mrene? Jare pak bali?" tegur dhe Muin.

(Kamu. Mau apa kesini? Katanya mau pulang?)

Dhe Sa'an tak menjawab pertanyaan dhe muin. Ia malah mendekati orang itu.

"Iki tamu ne sedulurku lek. Aku mau dipeseni kon ngeterke"

(Ini tamunya saudaraku pak. Aku disuruh mengantarnya).

Dhe Muin masih bingung dengan dhe Sa'an, belum sempat ia mengatakan sesuatu, dhe Sa'an langsung menarik dan mengajak pergi orang itu.

Awalnya, dhe Muin dan lek Tarjo sudah bergegas untuk pergi menjaring, namun tiba-tiba orang itu berteriak memanggil lek Tarjo dan dhe Muin.

"Pak, tolong pak!"

(Pak tolong pak!)

Lek Tarjo dan dhe Muin pun bergegas menuju ke arah suara.

Saat keduanya sudah ditempat orang itu berada, mereka melihat dhe Sa'an sedang ditolong untuk bangun karena terjatuh.

"Priye si kowe lek? Biasa lewat kene be tibo!"

(Gimana si kamu An? Biasa lewat sini kok jatuh!)

Gumam lek Tarjo.

Lek Tarjo pun segera membantu dhe Sa'an bangun. Dhe mu'in tak bergerak dari tempatnya berdiri. Ia masih tetap memperhatikan mereka yang ada ditempat itu.

Ia merasa ada keanehan seperti pada dalam cerita seram. Tapi ia tak tau harus berbuat apa. Seakan, ia menyadari bahwa mereka akan terjebak pada suatu peristiwa, dan mereka tak bisa menghindar, kecuali ada orang lain yang datang.

Dhe Muin terus memikirkan bagaimana caranya mereka keluar dari jebakan ini. Setidaknya, bagaimana caranya ia bisa menyelamatkan lek Tarjo.

Bisa saja ia menyelamatkan diri sendiri, tapi bagaimana dengan lek Tarjo? Ia sudah terlanjur menginjak "oyot mimmang" yang akan menyesatkan langkah mereka, sekalipun mereka berlari dari tempat itu. Tak ada pilihan lain selain diantara 2 pilihan itu.

ilustrasi (kitajam.id)

Ikut kemana dhe Sa'an pergi membawa mereka, atau melarikan diri dengan resiko tersesat dan mungkin tak akan selamat jika para penunggu daerah itu mengejar mereka.

Dhe Muin harus mengambil pilihan bijak, yang mungkin bisa menyelamatkan mereka, yaitu mengikuti kemana mereka akan dibawa.

"Iki meh bali nang nggon ngomahe sampean disik bae pok dhe?" tanya lek Tarjo.

(Apa ini kita pulang ke rumahmu dulu saja pak?)

Dhe Sa'an hanya mengangguk.

Mereka pun bergegas berjalan mengikuti jalanan setapak itu menuju rumah dhe Sa'an. 

Anehnya, seingat lek Tarjo, rumah dhe Sa'an tidak begitu jauh dari tempat mereka tadi. Tapi saat itu malah hampir berjam-jam mereka tak juga sampai rumah dhe Sa'an.

Lek Tarjo mulai menyadari apa yang sedang terjadi.

"Dhe, ndewe iki koyone keno oyot mimang"

(Pak, kita ini sepertinya kena "oyot mimang")

gerutu lek Tarjo, mulai merasa ketakutan.

Begitu juga dengan dhe Muin yang akhirnya mulai khawatir dengan keadaan mereka.

"Wes, tenang bae."

(sudah tenang saja)

"Mugo-mugo ono sing lewat, terus biso ngilekke awake dewe"

(Semoga ada orang lewat, lalu menyadarkan kita).

ujar dhe Sa'an, seakan ikut khawatir tapi masih mencoba untuk tenang.

"Lek, mbok gantian"

(Pak, gantian dong!) seru lek Tarjo, meminta dhe Muin untuk mengganikannya-

"Lha Raimu pekok, gelem-geleme mbopong wong ora kaiki. Kon mlaku dewe bae si"

(Dasar bodoh! Mau-maunya membopong orang yang tak apa-apa. Suruh dia jalan sendiri)

Dhe Muin yang sudah merasa agak takut dan agak jengkel, malah memarahi lek Tarjo.

Tapi dhe Sa'an hanya memasang senyuman, dan berkata sesuatu.

"Karang dasar Muin. Wes, ora opo-opo, aku pak mlaku dewe"

(Dasar Muin. Sudah, tak apa-apa, biar aku berjalan sendiri)

Dhe Sa'an pun akhirnya berusaha berjalan sendiri, dengan kaki yang agak diseret.

Mereka berempat akhirnya berjalan terus menyusuri jalanan setapak, yang sepertinya berkali-kali mereka melewati jalanan yang sama.

Berdasarkan mitos yang ada, siapa pun orang yang terkena "Oyot mimang", akan terus tersesat seakan terhipnotis untuk berputar putar melalui jalanan yang sama, sampai ada yang menyadarkan

Dhe Muin mengira-ngira, saat itu seharusnya sudah hampir tengah malam. Dan mereka belum juga tersadarkan dari jerat "Oyot mimang".

Hingga akhirnya, lek Tarjo pun menyerah dan meminta mereka beristirahat sebentar.

Saat mereka beristirahat itu lah, ada orang yang datang.

Tapi, ternyata dhe Muin menyadari bahwa orang yang datang itu bukan berasal dari desa itu, bahkan mungkin juga bukan berasal dari alam yang sama dengan mereka. Sungguh seperti dalam cerita seram saja pikirnya.

"Lha iki sampean do nang kene. Wes dienteni dek mau kok ora tekan-tekan."

(nah, kalian malah disini. sudah ditunggu dari tadi tak juga sampai)

Dhe Muin pun keheranan.

Dhe Sa'an pun menjelaskan kalau orang itu lah saudaranya yang sebelumnya dia katakan. Dhe Muin tau betul siapa dhe Sa'an, dan ia yakin orang itu bukan saudaranya yang sebenarnya.

Setelah bertemu dengan orang itu, mereka pun dibawa pergi ke suatu tempat yang terlihat seperti rumah megah.

Lek Tarjo keheranan, ia baru tau kalau di desa itu ada orang yang punya rumah megah seperti itu. Malahan dikiranya "Oyot mimang" telah menyesatkan mereka sampai ke tempat yang jauh.

"Lek, iki ndewe nang ngendi?"

(Pak, ini kita dimana?) tanya lek Tarjo keheranan.

"Mpun, mboten usah dipikiri rumiyin pak. Sing penting mpun mboten kesasar ten kebon kados wau."

(Sudah, tak usah dipikirkan pak. Yang penting sudah tidak kesasar di tempat rimbun seperti tadi) Ujar orang asing yang tadi bersama-

-mereka.

Dhe Muin masih terus curiga dengan orang itu. 

Dhe saan diajak pergi oleh orang yang mengaku saudaranya itu, dengan alasan hendak diobati.

Mereka bertiga disuruh menunggu ditempat yang seperti teras yang sangat megah itu, hingga pemilik rumah datang menemui mereka.

Lek Tarjo masih terus merasa keheranan, ia pun jadi malah mengagumi tempat itu. Tapi dhe Muin malah memandangi dengan sinis, baik ke arah Lek Tarjo maupun orang asing itu.

Pemilik rumah itu muncul dari arah pintu.

"Owalah njenengan sampun duki mriki"

(Wah, anda sudah datang)

"Lah, ternyata sareng kalihan tiang mriki."

(ternyata bersama dengan orang sini)

Pemilik rumah itu sepertinya mengenali dhe Muin, tapi tak begitu mengenali Lek Tarjo.

Singkat cerita, mereka pun diajak masuk kedalam rumah yang sangat megah itu.

Orang itu sepertinya ada urusan dengan pemilik rumah, yang kemudian mengajaknya masuk ke sebuah kamar. Sementara dhe Muin dan lek Tarjo dibiarkan menunggu di area ruang tamu.

Dhe Muin masih juga merasa khawatir, rasa takutnya, entah kenapa belum juga hilang. Mungkin karena ia sudah mengetahui dimana sebenarnya tempat mereka berada.



Facebook Conversations


"Berita ini adalah kiriman dari pengguna, isi dari berita ini merupakan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengguna"