Curhatan Horor KKN Desa Penari Part 9

Curhatan Horor KKN Desa Penari Part 9

Ngapain sih Bima? Penasaran? Yuk Kita simak aksinya~

Kalau sebelumnya Widya mengikuti Bima secara diam-diam dan sampai dekat kuburan kita lanjutkan ceritanya selanjutnya.

lalu, apa maksud penanda warna merah? Konon, dari seluruh tempat yang di beri penanda sebuah kain di desa ini, hanya gapura ini yang di beri kain warna merah, apalagi bila bukan simbol petaka.

Widya mulai melangkah naik, kakinya tidak berhenti mencari pijakan antara akar dan batu, sembari tanganya mencari sesuatu yg bisa menahan berat tubuhnya.

Malam sangat dingin, dingin sekali. hanya kabut di tengah kegelapan yg bisa Widya lihat, butuh perjuangan keras untuk sampai.

Malam yang sunyi (bbc.com)

Ketika Widya sampai di puncak Tapak tilas, Widya hanya melihat satu jalan setapak. kelihatanya tidak terlalu curam, namun rupanya butuh ekstra perjuangan juga. disana. Widya merasakanya, perasaan yang tidak enak dari tempat ini, semakin kentara, hal itu, membuat Widya merinding. 

Jalan setapak itu tidak terlalu besar, di kanan-kiri di tumbuhi rumput dan tumbuhan yang tingginya hampir sebahu Widya, dari sela tumbuhan dan rumput, Widya bisa melihat hutan yang benar-benar hutan, pohon menjulang tinggi dengan tumbuh-tumbuhan disekitarnya yang tidak tersentuh. 

Sangat mudah mengikuti Bima, karena hanya tinggal mengikuti jalan setapak namun, setiap kali Widya berjalart selalu saja, dari balik semak atau rerumputan, seperti ada yang bergerak-gerak kadang ketika Widya mencoba memandangnya, suara itu lenyap begitu saja. 

Tanahnya keras. dan lembab. namun Widya terus menembus jalanan itu, semakin lama semakin dingin, dan sudah beberapa kali Widya berhenti untuk menghela natas panjang. 

Jalanan ini, sepeti tidak berujung. namun bila kembali, Widya tidak akan tahu apa yang dikerjakan Bima disini. 

Hal yang cukup di sesali Widya hanya satu. ia hanya mengenakan sandal selop, memang, apa yang Widya lakukan malam ini, spontan karena penasaran. tanpa persiapan. tanpa teman, dan sesal itu, kian bertambah saat Widya mulai mendengar gending.

Ilustrasi hantu (tribunnews.com)

Ya, suara yang familiar, Nada yang dimainkan adalah kidung yang Widya dengar saat ia berada di bilik mandi, bersama Nur, sedangkan alunan gamelan yang dimainkan adalah alunan yang sama saat Widya mencuri pandang pada penari yang menari di malam dia bersama Wahyu.

 

Bukanya lari, Widya semakin menjadi-jadi 

Semakin jauh. suaranya semakin jelas, dan semakin jelas suaranya, semakin ramai bahwa disana, Widya tidak sendirian. 

Namun, yang Widya temui, adalah ujung Tipak talas, yaitu. sebuah tumbuhan yang di tanam tepat di jalan setapak. 

Tumbuhan du. adalah tumbuhan beluntas. Tumbuhanya kecil, tapi nmbun, samping kiri kanan, sudah gak bisa di lewati, kecuali bila membawa parang, dan tentu saja butuh waktu yang lama untuk membabat semak belukar. namun. wangi tumbuhan beluntas seharusnya langu, namun yang ini, wanginya seperti aroma melati, 

Seperti tidak sadar, Widya sudah mengunyah daun itu, dan terus mengunyah, Widya baru sadar saat tenggorokanya tersayat batang beluntas yang tajam, dan di balik tumbuhan itu, Widya melihat jalan menurun, pantas saja, ia hanya bisa melihat ujung jalan setapak berhenti di sini. 

Jadi. jalan menurunya di tutup oleh banyak sekali tumbuhan beluntas, saat Widya menuruninya, ia sampai harus berdarah-darah meraih tanaman beluntas yang di lilit tali puteri.

Hutan malam hari (yukepo.com)

Di bawahnya, dia melihat Sanggar yang di ceritakan Ayu dulu, dan sanggarnya benar-benar berantakan.

Ada 4 pilar kayu jati yang pangkas segi 4, memanjang ke atas dengan atap mengerucut, dari jauh terlihat seperti bangunan balai desa, namun lebih besar dengan lantai panggung. 

Disana, suara gamelan terdengar jelas sekali, seperti sumber suara gamelan itu ada di bangunan ini. 

Saat Widya mendekatinya, meski ragu, ia merasa kehadiranya tidak sendirian, ramai, seperti tempat ini penuh sesak, namun, tidak ada siapapun disana, hanya dia sendiri, yang berjalan mendekati 

Tepat ketika Widya menginjak anak tangga pertama, suara gamelan, berhenti, sunyi senyap.

Hening sekali. Semakin seru ya, gimana kelanjutanya? Simak deh di part selanjutnya~

Facebook Conversations


"Berita ini adalah kiriman dari pengguna, isi dari berita ini merupakan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengguna"