Curhatan Horor KKN Desa Penari Part 6

Curhatan Horor KKN Desa Penari Part 6

Kalau yang part sebelumnya Widya dan Wahyu terjebak macet, gimana ya kelanjutan kisah mereka ini?

Tibalah kita lanjut ke part 6, yang membuat penasaran. Gimana nasib antara Widya dan Wahyu di tengah hutan seperti yang udah kalian baca di part 5. Kuy di baca~


"Si bapak mengangguk, mengatakan mereka harus hati·hati, tidak lupa si bapak memberi bingkisan, menunjukkan isinya  pada Wahyu dan Widya. itu adalah jajanan yang di hidangkan tadi, membungkusnya dengan koran, Widya" "menerimanya, mengucap terimakasih lagi,lalu lanjut pergi."

Tidak ada yang seheboh Wahyu, yang terus berbicara tentang cantiknya paras si penari, kisaran usianya mungkin lebih tua dari mereka, namun, cara dia berdandan, bisa menutupi usianya sehingga dari jauh, kecantikanya terlihat begitu sulit di gambarkan.

Widya, leblh tertarik dengan kampung ltu. demi apapun, sewaktu perjalanan, tidak di temui satu kampung pun, jangankan kampung, warung saja tidak dda sama sekali.

Namun, motor Wahyu benar benar mereka betulkan, dan mereka tulus membantu tanpa meminta apapun,

Jadi, apa mungkin, hantu bisa  membetulkan motor?

Satu yang coba Widya yakini, mungkin, mereka tidak melihat kampung tadi saja, yang terpenting, di jalan setapak ini, Desa KKN mereka sudah semakin dekat.

KKN Desa Penari (kaltim.tribunnews.com)

Sesampainya di kampung, Wahyu pergi mengembalikan motor, sedangkan Widya sudah di tunggu oleh semua anak, mereka khawatir, berdiri menunggu di teras rumah.

"tekan ndi seh?? kok suwe'ne" (darimana sih? kok lama sekali) kete Ayu, "tekan Kota, belonjo keperluan kene·(dari kota, belanja keperluan kita).

Nur membuang muka melihat Widya, sudah biasa, kadang Nur memang seperti itu. setelah dia menceritakan kejadian kemarin.ia tidak lagi mau membicarakan  itu, sekarang. d1a sed1kit menjauhi Widya, dan ia merasakan itu. sangat terasa.

Di suasana tegang itu, hanya Bima yang mencoba mencairkan suasana. ""wes ta lah. kok kaku ngene seh" (sudahlah. kok canggung gini)

Bima menggandeng Widya, menyuruhnya masuk rumah,"

awakmu pegel kan· (kamu pasti capek kan)

Tidak beberapa lama, Wahyu sudah datang, ia masuk ke rumah.

"Tanpa membuang buang waktu, alih-alih ia istirahat. Wahyu  dengan suara menggebu-gebu bercerita kalau baru saja mengalaml kejadlan lidak mengenakan atas insiden motor, sampai  dibantu, orang kampung, tldak lupa, ia bercerita tentang penari yang ia temui, kecantikanya,"

ia ceritakan semua.

Bukan sambutan yang Wahyu dapat. tapi tatapan kebingungan lah yang pertama Wahyu lihat.

"ra onok Deso maneh nang kene" {tidak ada desa lagi disini) kata Bima. Wahyu yang mendengar itu tidak terima.

KKN Desa (Hipwee.id)

"eroh tekan ndi awakmu" (tau darimana kamu).

"aku wes sering nang kota yu," (aku sudah sering ke Kota Yu) "Prokerku onok "hubungane ambek program hasil alam, dadi sering melu nang kola mabek wong kene" (Prokerku berhubungan sama  program hasil alam,ja di sering  ikut ke kota sama orang sini). "sampe sak iki, aku rong eroh onok deso  maneh nang kene· (sampai sekarang, aku belum nemuin satu lagi kampung di dekat sini)

"ngomong opo, mbujuk" (bicara apa, nipu) kata Wahyu geram."

"Mas" kata Nur,"pancen ra onok Deso maneh nang kene, kan wes tau di bahas·"

(Mas, memang gak ada lagi desa disini, kan sudah pemah di bahas dulu)

"koen kabeh nek ra percoyo, tak dudui bukti , nek aku ketemu wong deso liane" (kalian kalau gak percaya tak kasih bukti kalau ada desa lain di sekitar sini)

Widya yang sedari tadi diam, tiba-tiba di ·tarik oleh Wahyu. "takono ambek Widya nek ra percoyo." (tanya sama Widya kalau tidak percaya)

"Widya maslh diam, lama. sementara yang lain menunggu Widya berbicara, hal yang membuat Widya bingung adalah, kopi. Sadar atau tidak. Widya sempat merasakan aroma kopi yang manis itu di jajanan yang la cicipi,"

rasanya sama persis.

Karena tidak sabar.Wahyu membuka paksa tas Widya dan mengambil bingkisan  itu. bukan koranlagi yang Wahyu temuin. namun.daun p1sang yang terbungkus do jajanan pemberian bapak tua itu.

Tepat ketika Wahyu membuka bingkisanitu. Semua orang melihat isi di dalam bingkisan itu, berlendir, dan aromanya sangat amis, tldak salah lagi. di dalam bingkisan itu adalah kepala monyet yang masih segar dengan darah di daun pisangnya.

Setelah kejadlan malam ltu. Wahyu mengurung diri dalam kamar, 3 hari lamanya, kadang,la maslh tidak percaya dengan hat ltu, namun, blla mengingat bagaimana kepala-kepala monyet itu jatuh dari tanganya, rasa mualnya akan kembali, membuat wahyu harus memuntahkan Isi perutnya.

Widya hanya mengulang kalimat mbah Buyut jangan menolak pemberian "tuan rumah sejatinya. Wahyu dan Widya sudah benar. meski la tahu semua itu ganjll. namun mereka harus tetap mencicipinya, yang jadi masalahnya, hanya Widya yang sadar, bahwa yang menemani mereka bukanlah manusia.

Seandainya saja, Widya mengatakan keganjilan itu kepada Wahyu, menolak pertolongan mereka, menolak pemberian  mereka, mungkin jalan cerita semua ini akan benar-benar berbeda, bisa saja, justru, penolakan seperti itu akan mendatangkan balak (bencana)  bagi mereka.

Apapun itu, Widya sudah mengerti satu hal, ada hubungan yang secara tidak langsung, tentang dirinya dan sang Penari.

Malam itu, Widya baru selesai melihat prokernya yang di bantu beberapa warga desa, ketika langit sudah gelap gulita. Widya menyusuri ja lan setapak desa, seperti biasa, suara binatang malam mulai terdengar, ia terus berjalan sampai melihat rumah tempat mereka menginap.

Seharusnya yang lain sudah ada di rumah, entah mencicil laporan proker atau mungkin sejenak beristirahat. namun anehnya, lampu petromax yang seharusnya menyala di depan rumah mati. membuat rumah itu terlihat lebih sunyi, kelam, dan mengerikan. seolah rumah itu memanggil namanya.

"wes biasa," batin Widya. memantapkan hatinya. rumah ini memang masih terbilang baru bagi Widya dan yang lainya, namun, tempo hari, mendengar bahwa ada penunggu di belakang rumah, membuat Widya kadang tidak tenang, dan beberapa kejadian ganjil hampir pernah Widya alami, hanya saja....

"Apa yang Widya alami, apakah juga  mereka alami, hanya saja mereka menutupi dan lebih memilih diam.

Kini, Widya sudah ada di depan pintu, ia mengetuknya, mengucap salam. dan kemudian melangkah masuk. dilhatnya  ruang tengah, tempat  biasa  Ayu  ada disana, menulis  laporan, sayangnya  tidak ada  Ayu disana. hanya ruangan kosong.

Desa Penari (pixabay.com)

Di teras rumah pun sama, seharusnya Wahyu dan Anto ada disana, sedang bercanda seputar apa yang mereka lakukan hari ini di temani asap rokok dari mulut mereka, atau suara Nur yang sedang mengaji, dan Bima yang entah apa yang ia lakukan

Selama tinggal di rumah ini. hanya Bima, yang masih terasa asing bagi Widya.

Sayangnya, malam itu, tak di temul satupun penghuni rumah ini, apakah Widya terlalu sore untuk pulang, sedangkan yang lain masih sibuk mengurus proker mereka masing-masing bersama warga.

Entahlah. Widya bersiap masuk ke kamar, saat. sekelebat perasaan tak nyaman itu muncul.

Perasaan seolah ada yang mengawasi entah darimana, dan menimbulkan rasa berdebar di dada, ketika, suara tawa ringkik terdengar dari Pawon {dapur) rumah. saat itulah, Widya yakin. sesuatu ada disana.

Sesuatu yang bukan lagi hal baru, ia harus memeriksanya.

Ketika Widya menyibak tirai, ia melihat Nur, duduk di sebuah kursi kayu, matanya menatap lurus tempat Widya berdiri, ia masih mengenakan mukenah putihnya seolah-olah, ia baru menunaikan sholat dan belum menanggalkan"mukenahnya, hanya saja, kenapa ia duduk diam sepertiitu.

"Nur" ngapain?" kata  Widya.

Nur masih diam, matanya seperti mata orang yang kosong.

Saat itulah, Widya melihat Nur menundukkan kepalanya dengan posisi duduk ltu, seakan-akan la tertldur di atas kursl kayunya. membuat Widya panik, mendekatinya.

Widya menggoyang  badanya, namun Nur tidak bergeming, saat  Widya mencoba menyentuh kuit wajahnya yang dingin Nur terbangun dan melotot melihat Widya, tatapanya, seperti orang yang sangat marah.

"Cah Ayu: (anak cantik) hal itulah yang pertama Widya dengar dari Nur, hanya saja, suaranya,itu bukan suara Nur. suaranya menyerupai wanita uzur. melengking, membuat bulu kuduk Widya seketika berdiri.

Namun, saat Widya mencoba pergi, tanganya sudah di cengkram sangat kuat.

"kerasan nak nang kene," (betah tinggal disini)

Widya  tidak  menjawab  sepatah  katapun,, suaranya  mengingatkanya  pada neneknya sendiri , benar benar melengking.

"yo opo cah ayu, wes ngertos badarawuhi"" (gimana anak cantik, sudah kenal sama penunggu disini)

Widya mulai menangis.

"Lo lo lo, cah ayu ra oleh nangis, gak apik" (anak cantik gak boleh menangis). Matanya masih melotot, pergelangan tangan Widya di cengkram dengan kuku jari Nur.

"cah lanang sing ngganteng iku ae wes kenal loh kale Badarawuhi" (anak ganteng itu saja sudah kenal sama dia)

"Nur," ucap Widya sembari tidak bisa menahan takutnya lagi, suasana di ruangan itu benar benar baru kali ini bisa membuat Widya setakut ini.

"iling Nur iling" (sadar Nur sadar).

Nur tertawa semakin kencang, tertawanya benar benar menyerupai tertawa yang membuat Widya diam takut.

"awakmu gak ngerti, sopo aku?"(kamu gak ngerti slapa aku?).

"mbok piklr, nek gak onok aku, cah ndablek model koncomu sing gowo Bolo alus nang kene lsok nyilokoi putu ku, aku, sing jogo Nur sampe sakiki, ra tak umbar. Bolo alus nyedeki putuku. ngerti" (kamu piklr, kalau tidak ada aku. anak nakal seperti temanmu yang sudah membawa penunggu disini bisa mencelakai cucuku. aku yang selama ini sudah menjaganya. tidak akan ku biarkan mereka  mendekati  cucuku. mengerit?)

"nyilokoi nopo to mbah"(mencelakai bagaimana?)

"Cah ayu, kancamu slji bakal ra isok balik. nek awakmu rong sadar, opo sing bakal kedaden.tak ilingno, cah ganteng iku. bakal gowo ciloko, nyeret kabeh nang petoko nang deso lki" (anak cantik, satu dari temanmu tidak akan bisa kembali, jika kamu belum sadar, semuanya akan terjadi, lngatkan anak itu, yang sedang membawa petaka jika di blarkan semuanya akan kena batunya"

di desa lni)

Setelah mengatakan itu. Nur teriak keras sekal, lalu jatuh terjerembap.

Widya menggotong Nur kembali ke kamarnya, menungguinya sampai ia terbangun dari pingsanya. dan benar saja. ia tidak tahu kenapa ia bisa tertidur. mungkln terlalu terbawa ket1ka sholat.

Masih ada kelanjutanya di page selanjutnya, tungguin aja ya gimana kelanjutan nasib dari para mahasiswa ini di Desa Penari~

Facebook Conversations


"Berita ini adalah kiriman dari pengguna, isi dari berita ini merupakan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengguna"