PLTA Kayan Dibangun, Tiga BUMN Ikut Investasi

PLTA Kayan Dibangun, Tiga BUMN Ikut Investasi

PLTA Kayan akan diproyeksikan menjadi PLTA terbesar di Indonesia

Pemerintah terus berupaya untuk memperbaiki bauran energinya dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Sungai Kayan Kalimantan Utara. 

Rencananya, konstruksi proyek pembangkit listrik berbasis tenaga hidro tersebut akan dimulai pada akhir tahun 2019. PLTA ini juga ditargetkan dapat menghasilkan daya sebesar 9.000 megawatt (MW). 

Asal tau saja, Sungai Kayan merupakan salah satu sungai terbesar di Indonesia dengan panjang mencapai 576 KM. Hulu sungai ini berada di Gunung Ukeng dan bermuara di Laut Sulawesi. 

Sungai Kayan juga terkenal dengan arusnya yang deras. Hal tersebut membuktikan bahwa air listrik di sungai ini menyimpan energi yang sangat besar. 

Total, panjang daerah aliran Sungai Kayan seluas 36.993,71 kilometer persegi. Pada akhir tahun 2019, di sungai tersebut akan dibendung untuk digunakan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air terbesar di Indonesia bahkan se-Asia Tenggara. 

PLTA Kayan ditargetkan beroperasi pada 2024

PLTA Kayan ditargetkan beroperasi pada 2024 Gambar PLTA Kayan (korankaltara.co)

Dari segi konstruksi, PLTA Kayan akan membagi pembangunan dalam lima tahapan. Tahap pertama akan di bangun PLTA Kayan 1 dengan kapasitas 900 MW. Kemudian dilanjutkan dengan pembangunan PLTA Kayan 2 dengan target daya sebesar 1.200 MW. 

Adapun PLTA Kayan 3 dan 4 akan dibangun dengan kapasitas masing-masing sebesar 1.800 MW dan PLTA Kayan 5 diproyeksikan mampu menghasilkan daya sebesar 3.200 MW. 

Direktur Operasional PT Kayan Hidro Energi (KHE) Khaerony mengatakan, secara keseluruhan pembangunan 5 PLTA di Sungai Kayan akan memakan waktu 20 sampai 25 tahun. Kendati demikian, listrik yang dihasilkan oleh PLTA Kayan sudah dapat dipergunakan pada 2024. 

“Kayan 1 tahun ini dibangun butuh 5 tahun. Udah ada listrik 900 MW di 2024, tahap 2 akan dibangun setelah Kayan 1 selesai” ucap Khaerony di Jakarta, Rabu (21/8/2019) seperti dikutip dari Tirto.id. 

Sementara itu, untuk pendanaannya, PT KHE akan mendapatkan sokongan dana investasi dari Power China dan Central Asia Capital Ltd. 

“Investasinya itu investor kita dari Power China dengan Central Asia Capital Ltd. Itu investor kita. Kurang lebih joint venture. Kayan mayoritas dari investor yang ada,” papar Kherony. 

Dia menambahkan, pembangungan pembangkit berbasis hidro di Sungai Kayan diperkiran akan menelan dana sebesar 2,3 sampai 2,7 miliar dolar Amerika Serikat (AS) per MW-nya. 

Jika total daya yang dihasilkan mencapai 9.000 MW maka biaya investasi di PLTA Kayan akan mencapai 20,7 miliar dolar AS sampai 24,3 miliar dolar AS atau senilai Rp 289,8 triliun higga Rp 340 triliun. Mengacu kurs Rp 14.000 per dolar AS. 

“Investainya 2,3-2,7 juta dolar AS per megawattnya. Kenapa mahal? Karena akses ke lokasi butuh ekstra, termasuk jadi cost tersebut,” tambah Khaerony. 

BUMN ikut berpartisipasi 

Selain menggaet investor dari China, PT KHE juga menjalin kerjasama untuk membangun PLTA Kayan dengan dua unit usaha milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yakni PT Adhi Karya dan PT Pelabuhan Indonesia IV di Kantor Staf Kepresidenan (KSP) pada pertengahan Agustus lalu. 

Acara penandatangan nota kesepahaman atau MoU itu disaksikan langsung oleh Kepala Staf Kepresidenan Jendral (Purn) TNI Moeldoko. Turut hadir juga Gubernur Kalimantan Utara Irianto Lambrie. 

Pada saat itu, Moeldoko mengatakan bahwa pembangunan PLTA di Sungai Kayan akan masuk dalam salah satu dari tiga proyek strategis nasional di Kaltara. 

Pembangunan tersebut akan ditujukan untuk mengaliri listrik di Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) di Tanah Kuning. 

“Jadi tiga kegiatan besar itu sekaligus dalam satu kawasan terintegrasi,” terang Moeldoko. 

Dalam kesempatan selanjutnya, Moeldoko menyampaikan, listrik yang dihasilkan oleh PLTA Kayan di proyeksikan untuk mengaliri listrik di ibu kota baru di sebagian daerah penajem Paser dan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. 

Kepala KSP mengatakan bahwa pemerintah melalui Kementerian PPN/Bappenas telah melakukan kajian tentang pasokan listrik di ibu kota baru negara Indonesia. 

Moeldoko menyebut listrik yang di hasilkan oleh PLTA Kayan mampu memasok kebutuhan listrik di ibu kota pengganti DKI Jakarta. Selain itu, lokasi PLTA Kayan juga tidak berdiri jauh dari Kabupaten Penajem Paser dan Kutai Kartanegara. 

“Nanti PLTA Sungai Kayan bisa menghasilkan listrik cukup besar, yang tidak terlalu jauh di Kalimantan Timur. Jadi menurut saya sudah terkalkulasi,” ungkap Moledoko di Kantor KSP pada Rabu (4/9/2019) seperti dikutip dari CNN Indonesia.

Di sisi lain, Irianto Lambrie mengatakan bahwa PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) juga akan berpartisipasi dalam investasi di PLTA Kayan. Irianto menyebut bahwa PLN telah menjalin komunikasi dengan PT KHE dan akan mengambil skema bisnis to bisnis

Listrik yang diproduksi oleh PLTA Kayan akan dibeli dengan harga murah oleh PLN untuk kemudian disalurkan kepada masyarakat. 

Sementara itu, sebagian listrik yang dihasilkan akan didistribusikan ke pusat Industri dan Pelabuhan Internasional di Tanah Kuning yang memang membutuhkan suplai listrik yang lebih besar. 

Tidak hanya PLN, menurut pewartaan Bisnis.com. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara juga tidak menutup kemungkinan untuk ikut andil dalam investasi tenaga hidro di Sungai Kayan tersebut. 

Kendati demikian, untuk dapat berpartisipasi, pihak Pemprov harus terlebih dahulu menyiapkan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). 

“Kalau bicara bisnis kita ikut investasi (di PLTA Kayan). Minimal kita diberi saham goodwill. Tetapi itu tetap bayar, artinya kalau perusahaan untung, kita ambil dibayarkan untuk investasi,” ungkap Irianto, Selasa (27/8/2019).

Facebook Conversations


"Berita ini adalah kiriman dari pengguna, isi dari berita ini merupakan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengguna"