Tepat pada 15 Desember 1943, Ratu Farida kembali melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Princess Fadia Farouk. Raja Farouk sangat emosi dan menuduh Ratu Farida yang secara fisik tidak mampu memberinya seorang anak laki-laki. Hingga akhirnya, Raja Farouk menggugat cerai Ratu Farida.
Raja Farouk kemudian mengambil hak asuh atas anak pertama dan keduanya. Sedangkan hak asuh dari putri ketiga mereka, diberikan pada Ratu Farida karena Sang Raja masih meragukan anak itu bukanlah anaknya. Setelah perceraian tersebut, Ratu Farida menyerahkan semua tahtanya.
Tindakan ini kemudian dinyatakan sebagai tindakan emansipasi wanita tertinggi yang pernah terjadi dalam sejarah Kerajaan Mesir. Ratu Farida tinggal di Mesir sampai tahun 1964, sebelum akhirnya memutuskan menetap di Lebanon. Tapi di situ, dia akhirnya bisa bertemu dengan anak-anaknya setelah 10 tahun terpisah.
Sejak resmi bercerai, Ratu Farida tidak pernah lagi menikah ataupun menjalani hubungan dengan siapapun. Dia memilih untuk fokus berkarier sebagai pelukis. Ratu Farida bahkan sempat mengadakan pameran pribadi di Eropa hingga ke Amerika Serikat.
Kehidupan Ratu Farida berakhir pilu dan jauh dari kehidupan kerajaan. Dia meninggal pada 16 Oktober 1988, setelah menjalani perawatan intensif akibat penyakit hepatitis, pneumonia dan juga leukimia yang dideritanya.