# Tidak Ada Batasan Jumlah Pengemudi
Djoko juga menjelaskan bahwa pekerjaan driver ojol saat ini sulit untuk dijadikan sandaran hidup. Ini karena aplikator tidak membatasi jumlah pengemudi dan membuat permintaan dengan pasokan tidak seimbang.
"Bekerja tidak dalam kepastian, status keren sebagai mitra akan tetapi realitanya tanpa penghasilan tetap, tidak ada jadwal hari libur, tidak ada jaminan kesehatan, jam kerja tidak terbatas," jelas Djoko.
Survei yang dilakukan Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan terkain pendapatan driver ojol juga menunjukkan bahwa ada 50,10% yang pendapatannya berkisar Rp 50 ribu-Rp 100 ribu dan biaya operasional hariannya terbanyak berkisar Rp 50 ribu - Rp 100 ribu adalah 44,10%.
Banyaknya pesanan sebelum tarif baru adalah 5-10 kali sebanyak 45,88%. Sementara itu setelah adanya tarif baru kurang dari 5 kali (55,65%).
Berdasarkan survei, pengemudi ojol mengaku jarang mendapatkan bonus (52,08 persen) dari aplikator dan sebagian besar menyatakan tidak pernah (37,40 persen) mendapatkan bonus dari aplikator. Sementara itu, untuk mendapatkan tip dari penumpang juga jarang (75,79 persen).