Kekerasan akan selalu mencoreng nama baik kompetisi olahraga sepak bola di Indonesia. Salah satunya adalah sejarah Aremania vs Bonek. Suporter tim Arema Malang dan Persebaya Surabaya.

Kekerasan bisa terjadi di mana saja. Tetapi jika itu berada di kompetisi olahraga seperti sepak bola, maka keberadaanya akan sangat mencoreng muka atas nama sportivitas. Di Indonesia sendiri, begitu banyak konflik yang terjadi antar pendukung sepak bola.

Salah satu kekerasan dalam sepak bola dalam negeri adalah sejarah Aremania vs Bonek. Aremania sendiri adalah suporter tim sepak bola Arema Indonesia dari Malang, sedangkan Bonek merupakan pendukung tim kesebelasan asal kota Surabaya Persebaya. Konflik kekerasan antar suporter ini terjadi bahkan sejak puluhan tahun lalu.

(surabaya.tribunnews.com)

Akar dari permasalahan tersebut pada dasarnya masih bisa ditelusuri. Namun apakah paragengs tahu apa yang mendasari selisih paham antar kedua kelompok tersebut?

Berikut ini adalah beberapa poin yang diduga menjadi latar belakang buruknya hubungan dua pendukung kesebelasan yang mencoreng sepak bola Indonesia.

Berawal dari tawuran Tambaksari

Tanggal 23 Januari 1990 disinyalir sebagai awal mula konflik antara dua kelompok suporter tersebut. Pada tanggal ini mereka sedang menyaksikan konser Kantata Takwa di Tambaksari, Surabaya. Sekitar 30 menit pertama sejak konser dimulai, para Bonek merasa geram karena area di depan panggung dikuasai oleh para arek-arek Malang, terlebih mereka terus bersorak, “Arema… Arema…” Bonek yang merupakan tuan rumah merasa terganggu.

Ilustrasi Aremania vs Bonek (YouTube.com)

Bonek lantas menambah rombongan mereka dan berusaha untuk memukul mundur Aremania sampai keluar dari Tambaksari. Namun, para Aremania tak begitu saja menyerah saat diusir oleh tuan rumah. Mereka melakukan perlawanan di luar Stadion.

Tawuran hebat pun tak bisa dielak lagi, bahkan berlanjut sampai di sekitar Stasiun Gubeng. Setelah hari itu perselisihan di antara keduanya seperti tidak bisa dihindarkan.

Malang yang dulu selalu diremehkan

Konflik antara keduanya menurut beberapa orang juga disulut oleh pernyataan-pernyataan miring dari kedua pihak. Katanya sih pendahulu Persebaya seperti H. Barmen dan Mudayat sangat meremehkan Malang. Mereka juga mengatakan jika tim-tim asal Malang tidak akan pernah bisa mengalahkan tim Surabaya.

"Jangankan menang, bermain seri saja akan sangat berat bagi tim Singo Edan". Pernyataan tersebut konon tertulis dalam media.

Foto Aremania tempo dulu (jeckosatrio.blogspot.com)

Pemberitaan itu kontan saja menyakiti hati para suporter Malang. Saat ada berita tentang rencana kedatangan Bonek ke Malang, para Aremania pun bersiap mencegat pasukan dari Surabaya itu. Sayangnya, saat Aremania berada di sekitar pertigaan Karanglo dan Singosari, mereka dihadang oleh para polisi.

Suporter yang marah hanya bisa melampiaskan kekesalan dengan merusak dan memecahkan kaca-kaca mobil dengan plat L. Mereka juga membuat spanduk-spanduk bertuliskan “Kalahkan Persebaya, Bungkam Mulut Besar Barmen dan Mudayat”.



Berita ini adalah kiriman dari pengguna, isi dari berita ini merupakan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengguna



Facebook Conversations