Pada akhir Maret 1993, foto tersebut diedarkan. Koran yang memuat foto Kevin pun langsung ludes terjual. Redaksi New York Times pun langsung kebanjiran telepon kala itu dan mendapat banyak pertanyaan yang sama: "Gimana nasib anak kecil itu?"
Kevin Carter kemudian menjelaskan bahwa bocah itu lolos dari maut. Dia bisa berjalan menjauh dari burung pemakan bangkai yang mengintainya itu. Namun ... dia tetep gak tau gimana nasib bocah perempuan itu selanjutnya. Gak ada yang tau bisa bertahan atau tidak.
Setahun kemudian, tepatnya pada Maret 1994, Kevin mendapat kabar dari redaksi New York Times. Foto Kevin yang sangat emosional itu terpilih sebagai pemenang utama Nobel Pulitzer Prize untuk kategori fotografi.
Kevin pun menerima penghargaan itu pada 23 Mei 1994 di Columbia University, Amerika Serikat. Setelah itu, Kevin Carter menerima banyak pujian.
Akan tetapi, Kevin gak cuma mendapat banyak pujian, dia juga menerima kritikan tajam. Sejumlah kritik menyebut Kevin tak berperikemanusiaan. Dia harus menghadapi tekanan pihak luar yang mempertanyakan sisi kemanusiaan dalam dirinya.
Kevin mendapat kecaman dari berbagai pihak dan dianggap terlalu mementingkan profesinya ketimbang sisi kemanusiaan. Ya, itu ada di hadapannya dan dia memilih pergi setelah itu.
Kritik tajam semakin menjadi-jadi dan Kevin Carter jadi merasa menyesal. Foto dan pemandangan di dalamnya terus menghantuinya. Dia merasa melihat kematian bocah perempuan itu yang siap datang persis di depan matanya.
Kevin Carter pun sempat mengaku bahwa setelah dia mengambil foto itu, dia sempat merokok setelah pergi dari sana. Setelah itu, Kevin pun menangis keras.
Kemudian pada 27 Juli 1994, dunia jurnalistik dihebohkan dengan berita kematian Kevin Carter yang fenomenal. Kevin ditemukan tewas bunuh diri di dalam truk di tebing Sungai Braamfonteinspuit, Afrika Selatan.
Dia bunuh diri dengan cara menyalurkan asap dari knalpot dalam kendaraannya.
Itulah kisah tragis di balik foto terkenal "Starving Child and Vulture" hasil jepretan Kevin Carter.