Seberapa Berbahaya?
Sebagaimana dijelaskan di atas, sindrom patah hati hanya bersifat sementara dan bisa hilang dengan sendirinya tanpa menimbulkan cacat permanen. Meski demikian, beberapa kasus broken heart syndrome bisa sangat fatal jika sampai terjadi henti jantung.
Henti jantung terjadi karena syok kardiogenik, yaitu jantung gagal memompa darah sesuai kebutuhan, sehingga menjadi salah satu pemicu kematian penderita jika tidak mendapat penanganan yang tepat.
Wanita Lebih Berisiko Mengalami BHS
Melansir Hello Sehat, BHS termasuk kelainan psikosomatis yang menyerang sistem kardiovaskuler. Menariknya, dalam berbagai penelitian, penyakit ini lebih mudah menyerang perempuan, terbukti dengan sekitar 86-100% kasus yang terjadi pada perempuan berusia 63-67 tahun.
Selain itu, pasien yang mengalami cedera syaraf akibat kecelakaan, percobaan bunuh diri, dan luka fisik lainnya juga rentan mengalami BHS. Golongan ini bahkan lebih berisiko karena rasa sakit bisa tetap menyerang walaupun organ sudah sembuh.
Itulah ulasan singkat tentang broken heart syndrome yang perlu kamu tahu. Dengan demikian bisa ditarik kesimpulan bahwa stres bukan hanya membuatmu merasa sedih, namun juga bisa berimbas pada kesehatan, bahkan menimbulkan kematian. Karenanya tetap jagalah kesehatan mental agar tubuh tetap sehat secara keseluruhan.