Status Beyoncé sebagai salah satu musisi miliarder dunia kembali menarik perhatian publik. Namun, di balik pencapaian finansial yang menempatkannya sejajar dengan Taylor Swift dan sejumlah nama besar lainnya, muncul kontroversi yang memicu perdebatan luas.
Penyanyi berusia 44 tahun itu disebut dalam laporan yang menyoroti dugaan praktik upah rendah terhadap buruh pabrik yang memproduksi lini busananya, Ivy Park, di Sri Lanka. Dalam laporan tersebut, para pekerja disebut menerima bayaran yang sangat minim, bahkan hanya sekitar Rp8.000 per jam.
Isu ini menjadi sorotan karena dinilai bertolak belakang dengan citra Ivy Park yang selama ini mengusung narasi pemberdayaan perempuan. Tak sedikit pihak yang mempertanyakan apakah kesuksesan finansial Beyoncé turut ditopang oleh praktik tenaga kerja murah di negara berkembang.
Beyonce (instagram)
Mengacu pada laporan Business and Human Rights Centre, buruh di pabrik MAS Holdings, Sri Lanka, mayoritas merupakan perempuan muda dari wilayah pedesaan. Mereka disebut bekerja hingga 10 jam per hari dengan upah sekitar US$5 atau setara Rp80 ribu. Jika dihitung dengan 22 hari kerja dalam sebulan, total penghasilan mereka hanya berkisar Rp1,76 juta.
Selain persoalan upah, laporan tersebut juga menyinggung kondisi tempat tinggal para pekerja. Mereka dikabarkan menempati asrama milik perusahaan dengan aturan jam malam ketat hingga pukul 22.30. Sejumlah aktivis menilai situasi ini berpotensi mengarah pada praktik eksploitasi, terlebih karena banyak pekerja enggan menyuarakan keluhan akibat khawatir kehilangan pekerjaan.
Kesenjangan antara pesan pemasaran Ivy Park yang mengangkat isu empowerment dengan realitas di balik proses produksinya pun menjadi fokus utama kritik publik.
Menanggapi tudingan tersebut, pihak Ivy Park memberikan bantahan. Dalam pernyataan resminya, label tersebut menegaskan komitmen terhadap praktik bisnis yang etis dan bertanggung jawab. Setiap mitra pemasok, disebutkan, diwajibkan mematuhi kode etik yang ketat dan terus didorong untuk menjaga standar tersebut.
