Mengenal Tradisi Unik Menikahi Anak Gadis Tuan Rumah di Wonogiri yang Bernama 'Tunggon', Seperti Apa?

Mengenal Tradisi Unik Menikahi Anak Gadis Tuan Rumah di Wonogiri yang Bernama 'Tunggon', Seperti Apa?

Setiap orang memiliki cara dan cerita mereka sendiri dalam mendapatkan jodoh. Ada yang tak sengaja dipertemukan, ada yang sengaja mencari di aplikasi kencan, ada yang dijodohkan, ada pula yang melewati sebuah tradisi.

Misalnya seperti tradisi Tunggon di Wonogiri. Sayangnya, tradisi yang sampai sekarang masih dijalankan segelintir orang di Kecamatan Karangtengah, Wonogiri ini, tak selalu berakhir baik.

Pasalnya, tradisi ini juga jadi penyebab maraknya pernikahan dini dan anak stunting. Emang, seperti apa sih Tradisi Tunggon? Yuk, langsung simak aja artikelnya berikut ini!

# Apa Itu Tradisi Tunggon?

# Apa Itu Tradisi Tunggon? Kecamatan Karangtengah Wonogiri Kecamatan (wonogiri.pks.id)

Tunggon dalam bahasa Jawa memiliki arti menunggu. Tradisi ini sudah ada sejak zaman dahulu kala. 

Tradisi tunggon dilakukan oleh laki-laki (calon mempelai) yang tinggal dan bekerja selama beberapa waktu di rumah orangtua sang perempuan (calon mempelai), sebelum bisa menikahi perempuan tersebut. 

Tradisi tunggon itu disebabkan sebagian orang tua memiliki mindset jika ada yang melamar atau menunggu anak perempuannya akan bangga.

Pasalnya, mereka menjadi tidak khawatir kalau anaknya tidak laku dan menjadi perawan kasep. Akhir dari tradisi tunggon pasti menikah.

Faktor lain di antaranya karena sudah ditunggoni anak harus segera dinikahkan agar tidak berdosa. Kemudian juga faktor tidak melanjutkan pendidikan, menjadi penyebab seseorang menjalani budaya tunggon.

Ketika menunggu, Si laki-laki biasanya akan membantu seluruh pekerjaan orangtua si perempuan. Misalnya mencari rumput, mencangkul, dan sebagainya. Sampai akhirnya nanti orangtua perempuan merasa bahwa si laki-laki sudah layak menikahi putrinya. Waktunya pun bervariasi, bisa bulanan atau bahkan tahunan.

Sang perempuan yang menjalankan tradisi ini biasanya menikah di usia yang masih sangat muda. Rata-rata perempuan yang ditunggu masih lulus dari SMP dan tak melanjutkan pendidikan. Sementara si laki-laki sudah dewasa.

Tradisi ini kemudian memunculkan berbagai risiko yang sudah disebutkan tadi sebelumnya: pernikahan dini dan stunting.



Facebook Conversations


"Berita ini adalah kiriman dari pengguna, isi dari berita ini merupakan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengguna"