Suku Anak Dalam, Suku Kecil Penantang Raksasa Sawit

Suku Anak Dalam, Suku Kecil Penantang Raksasa Sawit
Selalu hidup berpindah-pindah (boombastis.com)

Selain perkara hewan dan juga bahan makanan, mereka juga berpindah akibat kematian. Biasanya Suku Anak Dalam tidak mengubur siapa saja yang meninggal.

Mereka membuat semacam bale-bale setinggi 1,5 m dan meletakkan jenazah di dalamnya. Setelah itu mereka berpindah sejauh 10 km. Mereka pun juga harus menunggu minimal 3 tahun jika ingin kembali ke tempat semula.

4. Berladang untuk Bertahan Hidup

Seiring dengan berkembangnya waktu, hewan ternak dan juga buah di hutan kian menipis. Praktik illegal logging menjadi salah satu penyebab hal ini terjadi. Sumber penghasil pangan mereka musnah terbakar atau telah berubah menjadi kebun sawit.

Mengetahui hal ini Suku Anak Dalam mau tidak mau harus bertahan hidup. Akhirnya mereka menerima ilmu yang diberikan oleh penduduk sekitar. Dari sinilah interaksi terjadi hingga sekarang.

Berladang (beritasatu.com)

Penduduk desa mengajari mereka bagaimana cara bertanam dan menggunakan alat. Ada pula yang mengajari anak-anak ilmu pengetahuan hingga saat ini ada yang bisa baca tulis.

Tanpa melakukan ini Suku Anak Dalam akan kian habis dilindas zaman yang semakin semrawut seperti sekarang.

5. Kepercayaan Masa Lalu yang Dipegang hingga Sekarang

Suku Anak Dalam tidak memiliki keyakinan seperti agama umum di Indonesia. Mereka mempercayai sesuatu hal yang dianggap hebat dan berkuasa. Mungkin mereka ini adalah conton hidup kepercayaan animisme dinamisme masyarakat kuno. Pasalnya mereka mempercayai empat unsur penting alam yakni air, tanah, api, dan angin.

Kepercayaan masa lalu (waspada.co.id)

Suku Anak Dalam juga percaya jika orang yang telah meninggal rohnya akan langsung ke surga. Kembali tempat mereka berasal dan diterima Raja Nyawa. Itulah mengapa mereka memberikan penghormatan pada orang yang meninggal dunia. Dengan begitu roh tidak akan mengganggu yang hidup dan segera ke surga.

Itulah sekelumit cerita tentang Suku Anak Dalam. Keberadaanya memang sangat terasing dari kehidupan modern Indonesia saat ini. Tetapi mereka mengajarkan kita satu hal yang penting, yaitu upaya menjaga keseimbangan alam.

Keberadaan kebun sawit sangat sering tidak menghiraukan kondisi alam. Bencana alam seperti banjir seringnya terjadi karena hutan gundul akibat ditebangi oleh perusahaan sawit. Suku Anak Dalam meskipun kecil namun berani menantang siapa saja yang mengambil hak hidup mereka.



Facebook Conversations


"Berita ini adalah kiriman dari pengguna, isi dari berita ini merupakan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengguna"