Ghosting Itu Apa Sih, Ngilang Pas Lagi Sayang-sayangnya Gitu? (Bagian 3)

Ghosting Itu Apa Sih, Ngilang Pas Lagi Sayang-sayangnya Gitu? (Bagian 3)

Jadi, ghosting terdiri dari sekurang-kurangnya dua cara: menghindar dan menggunakan "pihak ketiga". Nah, siapakah yang biasanya melakukan ghosting ini?

Gengs, ini adalah ulasan ketiga soal ghosting. Jadi, apa setidaknya kalian sudah paham tentang ghosting ini? Kalo gak paham gapapa juga sih ... kadang, semua hal gak perlu diketahui sekarang juga kok (*apa sih?).

Pokoknya, ghosting tuh bisa diartikan lebih dari sekadar menghilang~ tring!

Gak usah nanya ke mana pas mereka ngilang~ (rd.com)

Ghosting juga kerap dikaitkan dengan kombinasi antara teknik menghindar dan melancarkan strategi komunikasi lewat "pihak ketiga" yang bukan cuman orang aja, bisa juga lewat perangkat elektronik atau media sosial gitu lah.

Situasi ini tergolong baru dan terjadi sebagai akibat langsung maupun tidak langsung dari merebaknya penggunaan situs cari jodoh online. Tapi gak cuman perihal jodoh aja sih, ternyata merambat ke beberapa hubungan sosial seperti pertemanan, persahabatan, maupun hubungan profesional pulak!

Udahan aja lah kalo begitu (rd.com)

Kalo di ulasan bagian kedua udah dibahas soal cara orang-orang mengakhiri sebuah hubungan, kali ini kita bahas tentang siapa aja sih pelaku ghosting dan waktu yang terbaik untuk melakukan ghosting. Hmm, makin menarik yah!

Baiklah ... siapa aja sih yang melakukan ghosting? Aku, kamu, dia, mereka, atau kita? Semua orang gitu?

Sebenernya gengs, ghosting terbagi menjadi dua: ghoster dan ghostee. Ghoster adalah orang yang melakukan ghosting. Sementara ghostee adalah si korban ghosting.

Bisa terjadi pada cowok (markmanson.net)

Dalam hal ini, Collins kembali menjelaskan bahwa orang-orang yang tidak suka memiliki kedekatan secara emosional, punya kecenderungan untuk melakukan ghosting! Hii ... apa enaknya berhubungan dengan 'hantu'?

Sebuah studi dilakukan tahun 2018 kemarin. Dalam studi itu, para peneliti membagi orang menjadi beberapa kategori. Studi itu dipublikasikan dalam Journal of Social and Personal Relationship.

Pertama adalah mereka yang memiliki mindset tetap tentang masa depan; kedua, percaya pada takdir dan berpikir bahwa suatu hubungan dapat atau tidak terjalin; dan ketiga, mereka yang memiliki mindset berkembang dan percaya bahwa hubungan membutuhkan usaha untuk bersemi.



Facebook Conversations


"Berita ini adalah kiriman dari pengguna, isi dari berita ini merupakan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengguna"