Kasus Kim Kardashian: Emang Ada Salah Kaprah Soal Kimono Sih

Kasus Kim Kardashian: Emang Ada Salah Kaprah Soal Kimono Sih

Tentang kasus Kim Kardashian, emang ada salah kaprah soal Kimono sih. Coba simak deh nih ulasannya.

Selebritas Kim Kardashian kembali menerima banyak kritik beberapa waktu lalu. Kritik itu bersamaan dengan tuduhan perampasan budaya karena doi menjual produk pakaian dalam dengan menggunakan kata 'kimono', baju tradisional Jepang.

Pemerintah Jepang bahkan mengirimkan surat khusus untuk Kim. Jepang meminta Kim untuk tidak menggunakan kata 'kimono' dalam produk yang diberi nama Kimono Intimates itu.

Kim Kardashian jadi kontroversi berkat produknya (canoe.com)

Setelah menerima kritik itu, Kim pun sepakat untuk mengganti nama label tersebut.

Permasalah ini diduga muncul lantaran terjadi salah paham tentang makna 'kimono'. Yumi Mizuno, seorang penerjemah lepas di Tokyo, menjelaskan bahwa terdapat perbedaan pemahaman kimono bagi orang Jepang dan orang Amerika Serikat (AS).

"Saya bingung pada awalnya dan tidak tahu mengapa [Kim] menamai produknya Kimono, karena produk itu tidak ada hubungannya dengan kimno Jepang," jelas Mizuno, seperti dikutip dari South China Morning Post.

Ketika kita mencari kata 'kimono' di Google, kita bisa melihat halaman pakaian dalam pada pencarian tersebut. Saat itu, Mizuno menyadari bahwa emang ada perbedaan persepsi yang serius. Mizuno mendapati ratusan ribu jubah sutra, kardigan panjang, dan pakaian dengan motif oriental yang diberi nama kimono.

Ini lho Kimono Intimates yang dimaksud (dailymail.co.uk)

Perbedaan persepsi ini berkembang setelah melewati sejarah panjang. Di AS, kimono erat hubungannya dengan seksualitas. Seksualisme kimono, seperti dikutip dari CNN Indonesia, berakar dari campuran yang kompleks antara perdagangan, imperialisme Amerika, serta eksploitasi wanita Jepang.

Hal ini tak lepas dari tahun 1860-an ketika Jepang mulai memodernkan kehidupannya bersama Restorasi Meiji. Jepang membuka perdagangan dengan Eropa dan mulai mengekspor produk budaya ke Barat.

Beberapa barang di antaranya adalah cetakan balok kayu (ukiyo-e), karya seni Jepang, kerajinan tangan, kipas angin, serta kimono. Setelah itu, produk estetis tersebut dipandang sebagai benda asing dan eksotis, didambakan, dan disesuaikan oleh orang Eropa dalam banyak hal.

Ya gimana gak kontroversi, banyak yang salah kaprah soal kimono (reddit.com)

Jepang kemudian banyak menjadi inspirasi utama bagi pelukis impresionis seperti Vincent van Gogh, Claude Monet, Gustav Klimt, dan banyak lagi. Karya-karya mereka menggambarkan wanita yang tampak sensual dalam balutan kimono.

Sementara di Jepang, kimono tradisional semakin ditinggalkan oleh pria. Akhirnya, pakaian tradisional tersebut melekat dan dikenal sebagai pakaian wanita.

Kemudian tahun 1945-1952, Jepang mengalami banyak kekalahan saat Perang Dunia II. Pemerintah AS pun berusaha untuk membuat Jepang menjadi "feminin".

"Sebagian dari itu adalah gambar dari pegawai wanita dan budak geisha [seniman]," jelas Sheridan Prasso, penulis buku 'The Asian Mystique: Dragon Ladies, Geisha Girls, and Our Fantasies of the Exotic Orient'.

Jepang kalah pada Perang Dunia II, akhirnya ... (apjjf.org)

Dalam periode itu pula, citra geisha jadi rusak akibat pelacuran serta industri yang menggunakan gambar-gambar mereka untuk memikat dan menjual layanan seksual pada pria-pria Amerika. Prasso menjelaskan bahwa gambar-gambar itu menjadi amat seksual dan dipopulerkan dalam budaya pop serta film-film tentang Jepang.

Prasso menyebut pula, upaya AS melakukan seksualisasi geisha itu membentuk citra yang dimiliki Barat terhadap Jepang dan wanita Jepang saat ini. Kimono pun terkena imbasnya dan diidentikkan dengan pakaian yang digunakan geisha tersebut. Makanya, nggak heran deh kalo Kim rasanya ingin menonjolkan sisi sensualitas dalam produknya tersebut.

Yak, kimono disalahpahami, dampaknya pun terasa hingga sekarang (dw.com)

Prasso juga menilai bahwa sulit mengubah stereotip kimono dan perempuan jepang saat ini di AS.

"Saya pikir sangat sulit bagi wanita Asia untuk mengatasi stereotip seksual di Barat, dan penggunaan gambar dan pakaian budaya seperti kimono membuatnya semakin sulit," kata Prasso.

Facebook Conversations


"Berita ini adalah kiriman dari pengguna, isi dari berita ini merupakan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengguna"