Masih Berhubungan Baik dengan Mantan, Indikasi Psikopat

Masih Berhubungan Baik dengan Mantan, Indikasi Psikopat

Tetap berhubungan baik sama mantan malah bisa jadi masalah. Malah bisa merugikan kamu.

Hayo yang masih berteman dengan mantan? Angkat tangan kalian?

Sebenarnya baik gak sih tetap berteman dengan mantan alih-akih menjaga silaturahmi atau menjaga hubungan baik? Jangan-jangan karena masih sayang dan masih pengen perhatian dari dia? Bahkan jangan-jangan mantanmu cuma pengen manfaatin kamu? Wah.. bahaya kan galau gini?

Ternyata, bagi para psikolog, pretensi tersebut bisa menjadi salah satu tanda sisi gelap kepribadian seseorang. Waduh... kok serem ya jadinya? Simak ulasan berikut ya.

Masih berteman sama mantan karena belum move on (thoughtcatalog.com)

Beberapa dari kita mungkin menganggap sah-sah saja bila masih berteman dengan mantan. Tapi kalau kamu udah punya pasangan dan dia juga punya pasangan, hal ini justru bisa berakibat buruk pada huubungan kalian. Mantan itukan masa lalu ya, sekarang yang penting justru masa depan kamu dengan pasangan baru. Apalagi kalau mantan kamu udah nikah? Malah disangka pelakor kan jadi lebih ngeri tuh.

Kamu harus berhati-hati, kalau udah putus tapi mantan maksa untuk tetap berkomunikasi dengan dia. Karena hal itu bisa jadi pertanda dia seorang Psikopat.

“Kamu tidak akan mendapatkan manfaat apapun dari pertemanan itu. Kamu justru akan tersejak dengan perasaanmu sendiri. Apalagi buat kamu yang belum move on, malah bisa membuatmu berharap dan menyakiti diri sendiri. Di balik status ‘berteman dengan mantan’ ada perasaan emosional yang terpendam.

Dilansir dari laman Dailymail.co.uk, Justin Mogilski dan Dr Lisa Welling dari Department of Psychology Oakland University baru-baru ini melakukan riset dan menemukan terkait motivasi seseorang masih berhubungan baik dengan mantannya.

Niat tetap berteman dengan mantan bisa mengarah kepada niat manipulatif, entah itu dengan ingin mendapatkan informasi pribadi (stalking), uang, dan bahkan seks. Berbagai motivasi tersebut menjadi karakter yang kompleks dan semakin rumit, karena adanya emosi yang tidak stabil.

Berteman dengan mantan bisa merugikan (mydomaine.com)

Penelitian itu dilakukan dengan merekrut 861 partisipan untuk menguji teori mengenai adanya potensi psikopat pada orang-orang yang berteman dengan mantan. Mereka memberikan pertanyaan pada semua partisipan mengenai alasan hubungan yang kandas dan alasan mereka untuk tetap berteman.

Mereka juga diminta untuk mengisi kuesioner untuk mengungkapkan jenis kepribadian secara klinis, yang memang dirancang untuk menganalisa perilaku menyimpang pada manusia. Perilaku menyimpang mencakup, sifat narsistik, sifat mendominasi, dan psikopat.

Lalu, studi sebelumnya merangkum hasil bahwa mereka yang memiliki skor tinggi pada uji coba ini, cenderung memilih teman karena manfaat dan niat untuk menguntungkan diri sendiri. Menurut hasil penelitian, para pria yang masih berteman dekat dengan mantannya berpotensi tinggi mengubah pertemanan hanya untuk pemuas seks belaka.

Yang penting bisa move on (wattpad.com)

Jadi dari kedua peneliti tersebut, alasan seksual merupakan motivasi utama yang berujung pada potensi psikopat.

Partisipan yang memilih seks sebagai alasan mendapatkan skor tinggi pada penilaian perilaku menyimpang (Mental Disorder).

“Gagalnya sebuah hubungan asmara memang mengakhiri romansa. Namun, studi ini memperlihatkan bahwa perubahan status mantan menjadi teman justru berpotensi pada semakin rusaknya hubungan dibandingkan putus cinta,” jelas Mogilski.

Paling penting nih gengs, apapun alasan kalian putus, dengan cara baik atau buruk, kalian gak dendam. Gak ada lagi perasaan sakit hati dan sedih. Harus move on biar bisa sembuh dari rasa sakit dan menjalani hidup dengan lebih bahagia.

Jika tetap berhubungan baik justru berpotensi gak baik buat kalian nantinya, jadi ya tinggalin aja, relakan mantan.

Facebook Conversations


"Berita ini adalah kiriman dari pengguna, isi dari berita ini merupakan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengguna"