Kupat Miskin, Kumis, Lapis: Sekelumit Cerita tentang Kampung Miskin Jakarta

Kupat Miskin, Kumis, Lapis: Sekelumit Cerita tentang Kampung Miskin Jakarta

Permasalahan Jakarta paling permanen adalah permasalahan kampung kumis. Maka solusi Anies adalah membangun rumah lapis.

Jakarta adalah relief candi. Permukaannya tak akan pernah rata. Ketimpangan kesejahteraan merupakan jurang-jurang profil penduduk Jakarta yang berjumlah lebih dari 10 juta jiwa di tahun 2018 ini. Para gubernur naik dan turun tapi tak banyak yang memberikan perubahan.

Setidaknya masih terdapat 220 kampung kupat miskin, singkatan yang diberikan Gubernur Anies untuk kampung kumuh, padat, dan miskin, di Jakarta. Kondisi ini yang menyebabkan ketimpangan yang ekstrim di masyarakat Ibu Kota.

"Di Jakarta lebih dari 220 Kampung kumuh padat miskin, kupat miskin. Kalau ingin lihat kemiskinan yang ekstrem, maka tidak usah jauh-jauh datangnya ke Jakarta. Ingin lihat kekayaan ekstrem juga tidak usah jauh-jauh, datang juga ke Jakarta, di sinilah yang ekstrem ini dua-duanya ada," kata Anies, Minggu (7/1/2018).

Pemerintah DKI Jakarta sebenarnya sudah pernah merencanakan penataan kawasan kumuh dan miskin (kumis) di tahun 2017. Wagub Sandiaga Uno menyatakan pemerintah berencana melakukan penataan di 16 kampung.

"Tadi pagi ada warga dari kampung akuarium yang hadir kita beri pemahaman tersebut, mohon sabar, ada 16 kampung kumuh yang ditargetkan setelah itu kita akan coba hadirkan solusi permanen," kata Sandiaga di Jakarta, Jumat (10/11/2017).

Salah satu solusi permanen yang ditawarkan Sandiaga adalah dengan membangun permukiman untuk warga kumis. Ia mengaku sudah mengantongi rencana rumah lapis yang akan dihuni mereka. Tetapi ia belum menceritakan bagaimana proses pemukiman warga kumis ke rumah lapis. Kita cukup berharap agar proses ini tidak berakhir dengan penggusuran yang tragis.

Facebook Conversations


"Berita ini adalah kiriman dari pengguna, isi dari berita ini merupakan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengguna"