Pada bagian lain surat itu Kartini menegaskan bahwa dirinya telah berjuang, bergulat, menderita dengan segala sikap kukuhnya saat sang ayah, menjodohkannya dengan Djojoadiningrat.
"Saya tidak dapat menjadikan nasib celaka ayah dan dengan demikian membawa bencana bagi semua yang saya cintai," tulis surat itu.
Hal lain yang tak banyak diungkap, rupanya Kartini pun mengajukan sejumlah syarat kepada calon suami yang akan memperistrinya. Syarat itu antara lain boleh membuka sekolah dan mengajar para putri pejabat di Rembang, dan membawa ahli ukir Jepara ke Rembang untuk mengembangkan kerajinan itu secara komersial. Nggak cuma itu, syarat lainnya menyangkut upacara pernikahan.
"Dia menolak ada prosesi jalan jongkok, berlutut, menyembah kaki mempelai pria dan akan berbicara dalam bahasa Jawa Ngoko, bukan kromo inggil. Ini syarat-syarat yang radikal untuk ukurasa massa itu," jelas Nina.
Wah, sungguh mulia ya hati RA Kartini. Pantesan dia disebut putri yang mulia.