Pertarunagan Sengit Santri Tebuireng Melawan Penguasa Kebo Ireng, Dukun Sakti Antek Belanda

Pertarunagan Sengit Santri Tebuireng Melawan Penguasa Kebo Ireng, Dukun Sakti Antek Belanda
Santri Tebuireng (tebuirengonline.com)

KH Hasyim Asy'ari juga bisa mengobati dengan metode Islam, seperti wirid atau zikir. Setiap Jumat seusai Salat Isya, di padepokan itu diadakan atraksi pencak silat serta debus untuk menarik masyarakat datang. Hingga akhirnya pesantren Tebu Ireng ramai.

Suatu hari Wiro menyusupkan anak buahnya untuk melihat latihan silat di tebu Ireng. Sebenarnya dia gak suka banget karena sejak ada pesantren dan aktivitasnya yang menarik, tempat lokalisasinya jadi sepi.

Meski Wiro terus melakukan teror dan memprovokasi santri, tapi para santri diminta untuk tetap tenang dan bersikap baik. Hingga mendapatkan banyak simpati masyarakat.

Hingga suatu ketika untuk mengakhiri kekuasaan Wiro, Kiai Sakiban mengambali keputusan untuk menantang Wiro bertarung secara jantan dengan santri padepokan.

Dan diutuslah dua santri oleh Kiai Sakiban untuk menemui Wiro. Setelah menemui Wiro di warung kopi Pasar Cukir untuk mengutarakan maksudnya.

Salah satu santri kembali menyampaikan maksudnya.

Latihan silat Tebuireng (badriologi.com)

"Kiai Sakiban minta kang Wiro beserta anak buahnya tidak menggangu padepokan kami lagi. Kalau memang bersedia sebaiknya diadakan tanding terbuka saja, jangan mengganggu dengan cara pengecut seperti perempuan," kata Santri itu.

Wiro marah mendengar ucapan itu. Dia lalu menerima tawaran tanding. Dari pihak padepokan dipilih Abdullah, santri asal Cirebon yang berperawakan sedang namun memiliki kanuragan mumpuni.

Duel keduanya disaksikan oleh ratusan warga kampung. Duel berlangusng dengan sengit. Masing-masing mengeluarkan jurus andalannya. Hingga akhirnya Abdullah berhasil memukul Wiro dibagian leher dan ulu hati.

Wiro yang udah kena pukulan itu langsung ambruk dan kalah. Dia meninggal beberapa hari kemudian. Akhirnya tahun 1906 atau tujuh tahun berdirinya padepokan, KH Hasyim Asy’ari resmi mengubah padepokan menjadi pesantren dengan nama Tebuireng.

Tebuireng menjadi semakin ramai menjadi pusat belajar agama dan beladiri warga. Kini udah punya santri dari banyak wilayah.



Facebook Conversations


"Berita ini adalah kiriman dari pengguna, isi dari berita ini merupakan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengguna"