Hutan milik Ibu Rosita (kompas)
Saat itu kondisi lahannya sangat tandus, nyaris tanpa vegetasi, dan tidak memiliki sumber mata air. Ketika banyak lahan sekitar berubah menjadi area vila atau perumahan, Rosita justru mempertahankan kawasannya agar tetap alami.
Mereka mulai menghijaukan lahan tersebut dengan menanam pohon pionir, pohon keras endemik, serta berbagai tanaman buah. Proses penanaman dilakukan secara organik, dengan pendekatan agroforestri yang memadukan pohon, sayuran, dan peternakan dalam satu sistem.
Dari lahan kritis seluas 1 hektar, wilayah itu berkembang menjadi hutan organik sekitar 30 hektar dengan lebih dari 40 ribu pohon yang ditanam. Seiring waktu, kawasan ini menjadi rumah bagi berbagai jenis burung dan satwa kecil, sekaligus berfungsi sebagai penyangga keseimbangan ekosistem setempat.
3. Hutan Kelekak yang Dilestarikan Masyarakat
“Hutan Kelekak” merujuk pada tradisi pengelolaan hutan berbasis kearifan lokal di Bangka Belitung yang masih terus dijaga hingga kini. Sistem ini adalah bentuk agroforestri berkelanjutan, di mana masyarakat menanam berbagai jenis tanaman untuk kebutuhan hidup tanpa merusak keseimbangan hutan.
Hutan Kelekak (trubus.id)
Kelekak memadukan unsur hutan, kebun, dan pertanian dalam satu lanskap, serta mengandung nilai ekologis, sosial, ekonomi, hingga budaya. Kawasan ini bahkan berkembang menjadi destinasi ekowisata yang menarik.
Hutan Kelekak tetap dijaga karena perannya sangat vital—menjadi sumber pangan, obat-obatan, penjaga ketersediaan air, serta tulang punggung keberlangsungan hidup masyarakat lokal. Kelekak menjadi contoh kuat bahwa kearifan tradisional dan hutan adat mampu menjadi benteng konservasi yang efektif.
