Desa yang Melarang Warganya untuk Pacaran dan Menikah, Loh Loh Loh Kenapa Emang?

Desa yang Melarang Warganya untuk Pacaran dan Menikah, Loh Loh Loh Kenapa Emang?

Tujuan seseorang menikah biasanya adalah untuk melanjutkan keturunan, beribadah, menghabiskan sisa hidup dengan orang tersayang, menyenangkan orangtua, dan lain-lain. Ada juga beberapa orang yang memutuskan melajang seumur hidup karena alasan tertentu. Sepertinya hampir tidak ada orang yang tidak menikah karena dipaksa.

Contohnya, seperti cerita warga Dukuh Nglumbang Dungik, Desa Soropaten, Kecamatan Karanganom, Klaten, Jawa Tengah ini. Kabarnya mereka yang tinggal di sana dilarang menikah, dan jika sampai melanggar, akibatnya bisa fatal.

# Legenda yang Dipercaya Masyarakat Setempat

Menurut legenda, di Kampung Glumbang Dungik, dulu ada tokoh Pengikut Pangeran Diponegoro bernama Mbah Suro Dinonggo. Makam tokoh besar ini sampai sekarang masih ada dan tergolong unik dan awet. Nisan atau kijingnya terbuat dari kayu jati yang memiliki beberapa sulur, mirip belalai gajah. Itulah kenapa makamnya diberi nama makam Mbah Gajah.

Peninggalan Mbah Gajah (indozone.id)

Kuburuan Mbah Gajah akan ramai pengunjung di hari-hari tertentu. Biasanya yang datang ziarah adalah orang yang punya keinginan. Misal mau daftar PNS, atau mau nyaleg, atau melamar pekerjaan.

Makam kuno Mbah Gajah (solopos.com)

# Dilarang Pacaran dan Menikah

Salah seorang sesepuh di desa tersebut, Mbah Waidi Darmo menceritakan bahwa Mbah Suro Dinonggo adalah pelarian dari Yogyakarta, bersama Pangeran Diponegoro.

Menurut kepercayaan di sana, warga Dukuh Nglumbang Dungik dilarang besanan dengan warga Karanglo.

Dulu, Mbah Dinonggo hanya mau besanan dengan piyayi (orang) kampung Karanglo. Ia menantang siapa pun yang mau jadi besannya dengan bertanding di sebelah timur Kampung Randubowo, termasuk Mbah Darmo Mulyono.

Ternyata, priyayi Kampung Karanglo itu enggak sanggup menerima pusoko yang berbentuk tombak tersebut. Akhirnya Mbah Dinonggo berkata bahwa sampai kapanpun orang warga Nglumbang Dungik enggak boleh menikah dengan warga Karanglo.

Apabila nekat melangsungkan pernikahan, rumah tangganya akan ditimpa malang dan sial. 

Nampaknya sabda Mbah Dinonggo dituruti warga. Sampai sekarang, menurut Mbah Darmo, enggak ada warga yang berani besanan. Tapi mereka tetap bergaul dan berteman.

Kuburan Mbah Gajah sering didatangi orang (indozone.id)