Ngeri-Ngeri Sedap! Sri Mulyani Ungkap Dunia Sedang dalam Bahaya

Ngeri-Ngeri Sedap! Sri Mulyani Ungkap Dunia Sedang dalam Bahaya

Kamu tentu sudah banyak dengar atau baca kabar yang mengatakan bahwa resesi atau kemerosotan ekonomi di depan mata. Kenyataannya, beberapa lembaga keuangan internasional memang sudah menyebutkan hal itu. Mulai dari IMF, Bank Dunia, maupun JP Morgan.

Prediksi soal gonjang ganjing perekonomian dunia ini juga telah diungkap Menteri Keuangan Sri Mulyani. Dalam Pertemua keempat antara menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral anggota G20 di Washington, D.C, Amerika Serikat pada Kamis (13/10/2022) kemarin, Sri Mulyani mengungkapkan "Saya tidak berpikir itu berlebihan, bahwa dunia dalam keadaan bahaya!" 

Sependapat dengan menterinya, Presiden Jokowi menyebut dunia akan 'gelap' tahun depan sehingga meminta para menteri untuk berhati-hati mengambil kebijakan. 

Presiden Jokowi dan Sri Mulyani sedang diskusi (tirto.id)

# Fakta-Fakta Kondisi Dunia yang Mengkhawatirkan

Prediksi tentang kondisi dunia yang mengkhawatirkan ini bukan tanpa alasan. Sebab faktanya, beberapa hal yang terjadi ini sudah jadi pertanda:

1. Inflasi hingga Pengetatan Moneter Negara Maju

Negara maju mulai melakukan pengetetan kebijakan moneter sebagai respons situasi dunia yang kacau. Amerika Serikatnya misalnya, sudah beberapa kali menaikkan suku bunga acuan. 

"Kita telah melihat pengetatan kebijakan moneter global yang lebih cepat dari yang diantisipasi, dengan banyak negara maju dan negara berkembang menaikkan suku bunga mereka secara signifikan. Hal tersebut menciptakan risiko rembesan ke seluruh dunia," terang Sri Mulyani.

2. Konflik Rusia Ukraina

Ketidakpastian global menurut Sri Mulyani disebabkan oleh kondisi geopolitik antara Rusia dan Ukraina yang memanas. Karena konflik itu pula, terjadi krisis pangan dan energi di sejumlah negara.

"Perang di Ukraina terus memperburuk keamanan pangan global dan krisis gizi. Itu membuat harga energi, makanan, dan pupuk semakin tinggi dan tidak stabil. Perang juga membuat harga energi melonjak, mengakibatkan kekurangan energi dan masalah keamanan energi," ungkap Menkeu.

3. Butuh Tindakan Kolektif

Sri Mulyani di pertemua G20 (ekonomi.bisnis.com)

Tantangan ekonomi yang terjadi di depan mata tidak dapat diselesaikan oleh satu atau hanya beberapa negara. Butuh tindakan kolektif dari paling tidak 85 persen ekonomi dunia untuk menavigasi gelombang krisis.

"Saya benar-benar percaya bahwa G20 adalah mercusuar harapan yang dapat membantu dunia menavigasi gelombang krisis yang menghancurkan yang kita hadapi," kata Sri Mulyani.

Sri Mulyani juga menambahkan bahwa negara Indonesia harus berhati-hati dalam mengambil langkah. Tujuannya agar masyarakat bisa tetap siap menghadapi situasi krisis dan bertahan di kondisi yang serba tidak pasti ini.

Semangat ya ges, badai pasti berlalu!

Optimisme Indonesia lawan resesi ekonomi (cnbcindonesia.com)