Istilah toxic positivity mengartikan kondisi seseorang yang selalu menolak emosi negatif. Alih-alih selalu berpikir positif, padahal keadaan ini merupakan sebuah penyangkalan. Hal ini bukanlah sebuah solusi dari sebuah keadaan yang rumit, melainkan hal yang buruk.
Seseorang tidak peduli tentang salah atau benar, yang dia tahu adalah dia harus selalu berpikir positif terhadap situasi apapun. Kondisi ini biasanya terjadi ketika seseorang sedang lelah, namun ini bisa menjadi kebiasaan yang buruk, bahkan bagi kesehatan mental.
Kita semua tahu bahwa berpandangan hidup yang positif itu baik bagi kesehatan mental. Masalahnya, hidup tidak selalu positif, kan? Semua orang pasti berurusan dengan emosi, meliputi sedih, marah, kecewa, dan sebagainya.
Perlu kamu tahu bahwa hal-hal yang tidak menyenangkan itu penting dan perlu dirasakan secara jujur. Bukan malah dihindari dengan melakukan toxic positivity.
Biasanya ini juga terjadi ketika seseorang terlalu lelah dan tidak ingin berdebat dengan lawan bicara yang berbeda pandangan dengannya. Meskipun dia tidak setuju, karena terlalu malas, lantas dia menyetujuinya.
Toxic Positivity (via Cuddle Sanctuary)
Keadaan lainnya seperti ketika seseorang kehilangan pekerjaan, orang-orang di sekitarnya mengatakan untuk tetap positif dan melihat sisi baiknya. Meskipun bertujuan simpati, tapi itu bisa saja sebagai cara untuk menghentikan rasa sedih yang belum sempat diceritakannya.
Pemikiran positif yang ekstrem ini terlalu berlebihan. Sikap ini tidak hanya menekankan optimisme, tetapi juga menyangkal emosi manusia yang memang tidak selalu bahagia.
Toxic Positivity (via Khaleej Times)
Untuk melawan toxic positivity yang mungkin sudah menjadi kebiasaanmu, lakukan beberapa cara ini. Kelola emosi negatif dan jangan menyangkalnya, bersikap realistis tentang emosi apapun yang harus dirasakan, tidak terlalu berharap pada diri sendiri, menjadi pendengar yang baik, dan memperhatikan perasaan diri sendiri lebih lagi.
Toxic Positivity (via Alodokter)