Anak Krakatau Menyemburkan Abu Lagi, Begini Fakta Terbaru Gunung Vulkanik Tersebut

Gunung Anak Krakatau menyemburkan abu panas lagi pada pukul 12.03 WIB (03/01/18). Meski masih berstatus Siaga Level III, tetapi penting untuk ditinjau lebih lanjut.

Gunung vulkanik yang berada di Selat Sunda menyebabkan tsunami pada Sabtu, 22 Desember 2018. Berdasarkan laporan dari Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau ESDM memberitakan bahwa gunung tersebut mengalami erupsi dengan ketinggian abu panas 1.600 meter. 

Meski terlihat kolom abu diatas puncak gunung Anak Krakatau, tidak terdengar suara gemuruh di sekitarnya. Masyarakat dan wisatawan dihimbau berada pada jarak aman dalam radius 5 kilometer dari kawah. 

Gunung Anak Kratau menyusut dari 338 mdpl menjadi 110 mdpl. Menurut Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, terdapat celah yang terus mengepulkan asap. Berdasarkan pantauan terakhir, pada 22 Desember 2018, terjadi retakan baru yang diduga karena adanya getaran saat erupsi. Retakan ini mungkin bisa menyebabkan longsor ketika terjadi getaran terus menerus. Maka, bagi warga terdampak diminta untuk waspada. 

Gunung Anak Krakatau muncul setelah 40 tahun letusan Gunung Krakatau. Tepatnya pada tahun 1927, gunung anakan yang bersifat vulkanik ini tumbuh 0,5 meter setiap bulannya. Pertumbuhannya diakibatkan oleh material yang keluar dari perut gunung. 

Gunung Anak Krakatau (en.tempo.co)

Dikutip dari Tribunnews, suara dentuman Gunung Anak Krakatau terdengar di Lampung, Sumatera Selatan, Jawa Barat sampai Pekalongan. Dentuman ini terdengar pada Rabu (26/12/2018). Sebelum dikonfirmasi, dentuman tersebut dianggap misterius. Suwarno, Kepala Pengamat Gunung Anak Krakatau, membenarkan bahwa suara dentuman itu adalah suara letusan gunung vulkanik. Suara dentuman keras itu disertai dengan petir dan hujan. 

Berdasarkan informasi resmi dari BMKG, peristiwa tsunami yang terjadi akhir tahun 2018 kemarin dianggap kejadian langka. Karena tsunami tersebut terjadi karena longsoran dari erupsi gunung api. Lebih jauh lagi, sistem peringatan dini dari bencana tersebut belum memadai. 

Foto Anak Krakatau dari NASA (iceagenow.info)

Sejauh ini, tsunami yang disebabkan longsoran materi vulkanik sebesar 3 persen. Sedangkan 5 persen disebabkan oleh erupsi gunung api. Berdasarkan catatan kebencanaan dunia, 80 persen tsunami terjadi karena gempa tektonik. Saat ini, pemerintah yang mengurusi bidang kebencanaan alam sedang merancang sistem peringatan dini untuk tsunami yagn diakibatkan gempa vulkanik. 

Data rekam seismograf Gunung Anak Krakatau, 25/12/18 (foto.bisnis.com)