Ini Dia Raja Pertama di Jawa yang Tidak Punya Selir, Siapa Sosoknya?

Ini Dia Raja Pertama di Jawa yang Tidak Punya Selir, Siapa Sosoknya?

Raja -raja di Indonesia khususnya di tanah Jawa sering memiliki istri lebih dari satu atau memiliki selir. Tapi menurut sejarah konon ada satu-satunya raja di Jawa yang tidak memiliki selir. Dia tetap memiliki istri satu dan tidak terpikir untuk menikah lagi. Raja itu adalah Raja Pakubuwana VIII.

Satu-satunya pendamping hidup Pakubuwana VIII adalah Raden Ayu Ngaisah. Istri Pakubuwana VIII merupakan putri dari Pangeran Adipati Purbanegara yang berkuasa di Kediri, Jawa Timur. Pakubuwana VIII hanya memiliki satu istri adalah sesuatu yang dianggap tidak lazim bagi raja di Jawa khususnya yang berasal dari keturunan Mataram dan Kasunanan Surakarta.

Para raja yang bertakhta di puncak singgasana sebelum Pakubuwana VIII selalu memiliki istri lebih dari satu mulai dari permaisuri ditambah beberapa selir. Bahkan Raja-raja Islam di Jawa dan luar Jawa banyak melaksanakan poligami sebagaimana raja sebelumnya. Biasanya seorang raja memiliki 4 orang istri.

Pakubuwana VIII memiliki nama asli Raden Mas Kusen. Dilansir dari Tirto dia lahir di Surakarta pada 20 April 1789. Ia memiliki ayah yang merupakan Pakubuwana IV dan ibu bernama Raden Ayu Rantansari. Ibu Raden Mas Kusen ternyata bukan istri atau permaisuri Pakubuwana IV melainkan selir raja.

Raden Mas Kusen tahu diri sebagai anak raja dari ibu seorang selir. Ia sama sekali tidak bermimpi akan menjadi seorang raja. Menurut sejarah ia malah mendukung kakaknya, Raden Mas Malikis Solikin yang lahir dari permaisuri Raja untuk menjadi raja dibandingkan dirinya.

Tapi setelah kakaknya menjadi Pakubuwana VII, justru ia meneruskan tahta menjadi seorang Raja Pakubuwana VIII. Kusen menjadi raja dalam usia yang sudah tidak muda lagi, kira-kira ia berusia 67 tahun. Pada tahun 1858 ia jadi raja. Memang cukup singkat hanya selama 3 tahun.

 

Ini Dia Raja di Jawa yang Tidak Punya Selir, Siapa Sosoknya (Kompas.com)

Selama memerintah, Pakubuwana VIII berhasil menjaga kondisi Kasunanan Surakarta dengan kondusif. Tak ada polemik yang berarti sesame anggota kerajaan, baik internal keraton dan luar keraton. Padahal saat kepemimpinannya, Belanda masih berkuasa di Indonesia.

Karena Raja  Pakubuwana VIII sudah tua maka pihak pemerintah Belanda tidak sulit mengatur dan melakukan tekanan kepada Pakubuwana VIII. Pakubuwana VIII memilih diam dan tidak ingin mencari perkara dan selalu menuruti permintaan dan kemauan pihak Belanda. Pakubawa VIII meninggal dunia pada 12 Desember 1861.

Ini Dia Raja di Jawa yang Tidak Punya Selir, Siapa Sosoknya (Ayo Indonesia)