Mengapa beberapa orang memandang hidup secara negatif? Seringkali, emosi yang biasanya kita alami sehari-hari tercermin tidak hanya dalam perasaan dan fenomena subjektif lainnya, tetapi juga memunculkan mentalitas tertentu, atau pada filosofi kehidupan.
Kasus di mana orang terbiasa melihat kehidupan dengan cara yang sangat negatif tidak jarang, mereka selalu memutuskan interpretasi yang pesimistis terhadap fakta.
Mengapa sebagian orang mengadopsi pola pikir pesimis?
1. Depresi
Meskipun kebanyakan orang yang cenderung memiliki cara berpikir yang agak negatif tidak memenuhi kriteria untuk didiagnosis dengan gangguan depresi mayor, ini masih merupakan salah satu psikopatologi yang paling umum.
Perubahan ini ditandai dengan demotivasi yang intens dan ketidakmampuan untuk merasakan kesenangan, sedih dan melankolis. Sebagian dari penyebabnya berkaitan dengan ketidaksesuaian fungsi otak.
2. Harga diri rendah
Berkaitan dengan pola pikir membuat kita berasumsi bahwa kebaikan yang terjadi pada kita tidak pernah merupakan konsekuensi dari jasa kita, tetapi untuk orang lain atau keberuntungan. Juga hal buruk yang terjadi pada kita adalah kesalahan kita.
Untuk alasan ini, mentalitas negatif muncul dalam diri kita.
3. Hidup monoton
Depresi (rtor.org)
Fakta menjalani gaya hidup yang monoton membuat kita lebih mudah mengalami stagnasi emosi, yang berimplikasi pada rendahnya ekspektasi tentang masa depan.
4. Manajemen ingatan kita yang buruk
Terkadang, ingatan akan situasi tertentu yang menyebabkan kita menderita secara emosional di masa lalu menjadi lingkaran setan dari pikiran yang mengganggu yang terus menerus.
Dalam kasus yang paling ekstrim, masalah ini mengambil bentuk trauma psikologis, menimbulkan cara berpikir yang agak negatif.
Ini ada hubungannya dengan fungsi memori.
Telah dibuktikan bahwa ketika kita bersedih, kita cenderung membangkitkan ingatan yang juga sedih karena pemulihan ingatan tersebut sesuai dengan keadaan emosi kita saat ini.
5. Konteks sosial juga penting
Hidup monoton (tvo.org)
Orang-orang yang berinteraksi dengan kita sehari-hari juga merupakan orang yang konstan yang dapat sangat memengaruhi apa yang biasanya kita pikirkan dan rasakan sehari-hari.
Namun, kita cenderung tidak terlalu memperhitungkan variabel sosial ini dalam hal memahami diri kita sendiri.
Jadi, jika orang-orang di sekitar kita pesimis atau meremehkan kita, kemungkinan besar cara berpikir kita cocok dengan prakonsepsi yang telah "dipaksakan" kepada kita oleh lingkungan sosial kita.
Terapi psikologis adalah sumber daya paling efektif untuk mendamaikan kehidupan dan mengembangkan mentalitas konstruktif yang memungkinkan kita melihat kebaikan.
Lingkungan sosial (verilymag.com)