Maradona memang bukan nama sembarangan di dunia sepak bola, ya, Gengs.
walaupun cuma membela tiga klub Eropa yakni Barcelona, Napoli, dan Sevilla, nama Maradona tetap dikenang sepanjang masa.
Nggak cuma soal prestasi, Gengs, hidup Maradona juga penuh dengan kontroversi dan masalah pribadi. Salah satu yang menarik adalah waktu Maradona membela Barcelona pada 1982 hingga 1984.
Waktu itu, ceritanya Maradona yang masih berusia 22 tahun didatangkan Barcelona dari Argentinos dengan banderol 7,2 juta euro (Rp 120 miliar). Tentu saja harga segitu adalah nilai termahal untuk transfer pemain sepak bola pada zaman itu.
Maradona cuma bermain selama dua musim di Barcelona dan berhasil meraih 1 trofi Liga Spanyol, 1 Copa del Rey, dan 1 Piala Super Spanyol. Selain itu, Gengs, Maradona juga mampu mencetak 30 gol hanya dalam 43 pertandingan di semua kompetisi untuk Barcelona. Bayangin, aja, Gengs!
gayanya tengil, ya, Gengs? Hehe (TheseFootballTimes.com)
Namun, yang paling diingat publik dari Maradona di Barcelona bukan tentang soal prestasinya doang, melainkan juga kontroversinya.
Menurut cerita, di Barcelona inilah “Sang Tangan Tuhan” mulai berkenalan dengan narkoba dan obat-obatan terlarang lainnya.
Akhirnya, Maradona pun dikenal sebagai pemain yang kecanduan narkoba dan sempat diskors karena ketahuan pake narkotika buat doping. Aduh, duh, duuh!
Selain itu, pria yang tutup usia di usia 60 tahun itu dikenal sebagai seorang maniak pesta, lho, Gengs.
Sampai-sampai pelatih Barcelona saat itu, Cesar Luis Menotti, terpaksa menggeser jadwal latihan ke sore hari Cuma agar Maradona mampu ikut latihan. Kurang pengertian apa lagi, coba?
Memenangkan Piala dunia (Goal.com)
Akan tetapi, Blaugrana rupanya mulai tak sabar dengan kelakuan Maradona yang semakin menjadi setelah mendapat pemakluman.
Hasilnya, pada awal musim 1984-1985, Maradona dibuang ke Napoli dan mulai menjadi legenda di sana. Nggak cuma berpesta dan narkoba, Gengs, Maradona rupanya juga sempat terlibat perkelahian hebat dalam sebuah laga antara Barcelona dan Athletic Club pada final Copa del Rey 1984.
Malahan, Maradona ambil posisi paling depan dalam kerusuhan itu, dan gagal menjadikan Barcelona sebagai juara Copa del Rey. Tapi, terlepas dari berbagai kontroversi, Maradona akan tetap dikenang sebagai salah satu pemain terbaik Barcelona sampai kapan pun.
Maradona ngudud, Gengs (Vice.com)