Foto Horor Setan: Pengalaman Pribadi Yang Mengerikan Part 4 (Keanehan Silvi)

Kali ini ada kisah mengerikan terkait foto horor setan dari pengalamannya seseorang kayak apa kisahnya? Kuy kita simak....

Cerita Foto Horor Setan: Pengalaman Pribadi Yang Mengerikan Part 3

"IAAAK" ucap Silvi dengan suara pelan.. 

setelah beberapa lama keheningan membuat Nia sadar dari ketakutannya ia lantas menuntun Silvi agar kembali ketempat tidurnya sebelum Nia mendengar suara lonceng itu kembali pintu kamar yang sudah Nia kunci tiba-tiba terbuka dengan sendirinya.

Ni Elin muncul ia menggandeng tangan Silvi lantas menatap Nia yang sedang memanjat ranjang milik Silvi mata mereka bertemu "kamu kalau ngantar Silvi ke kamar mandi jangan ditinggalin sendirian."

Nia berbalik menatap ranjang Silvi disana ia tidak menemukan gadis itu "kamar juga kenapa dikunci teman sekamarmu belum masuk untung saya punya kunci cadangan," ucap ni Elin marah.

Ia menggandeng Silvi Nia hanya diam saja ia tidak tahu harus berkata apa karena ia yakin ia bersama Silvi beberapa waktu yang lalu.

"Ya sudah istirahat lagi ya" ni Elin pamit pergi saat pintu kembali ditutup suara lonceng itu mengakhiri semua peristiwa ganjil malam ini.

Silvi tidak marah kepada Nia ia mengatakan sesuatu kepada Nia sebelum pergi ke ranjang tidurnya sebuah kalimat lain.

"Ang amu awa iuuu iaaak" sembari tersenyum 

"Nia bangun nak."

Nia baru membuka mata ia melihat ni Eva tengah berdiri disamping tempatnya tidur ia ingat apa yang terjadi kejadian semalam seperti kembang tidur saja lantas Nia berdiri memberi salam kepada ni Eva.

"Kamu ditunggu ni Ika sekarang ya," Nia mengangguk.

Nia melangkah menuruni anak tangga lantas ia berjalan menyusuri lorong tiba-tiba Nia melihat seorang anak lelaki yang biasa ia lihat di meja makan Nia berpapasan dengannya.

"Si Anak" gumam anak itu tiba2 entah benar atau tidak Nia yakin kalimat itu yang anak lelaki itu gumamkan.

Nia mengetuk pintu dari dalam terdengar suara ni Ika yang menyahut "masuk".

Nia membuka pintu ia melihat wanita paruh baya itu tengah duduk tatapannya menyelidik sebelum ia tersenyum mempersilahkan Nia duduk.

"Sini nak duduk" katanya lembut 

"ada apa ni" tanya Nia dari semua 3 pamong yang ada disini ni Ika adalah yang membuat Nia merasa was-was mungkin. 

Karena beliau yang memiliki garis wajah yang keras membuat Nia merasa terintimidasi selain itu umur ni Ika yang paling tua bila dibandingkan dengan ni Elin apalagi ni Eva.

 

"Jangan gugup begitu" sahut ni Ika ia menurunkan kacamata yang sedari tadi terpasang di wajahnya lantas ia menatap Nia lagi.

"Saya sudah mengurus semua urusan kamu kamu mau ya sekolah sama seperti yang lain ibuk pengen kamu sama seperti yang lain bisa melanjutkan pendidikan," Nia mengangguk sembari menjawab "inggih buk" katanya.

Untuk kali ini Nia bisa melihat garis keras di wajahnya melunak Nia juga menatap senyuman di bibirnya Nia merasa mungkin ni Ika memang seperti itu tugas beliau sebagai ketua pamong.

Hal itu membuat banyak orang salah menilainy 

namun ketika Nia pikir alasan kenapa ni Ika memanggilnya selesai tiba-tiba ni Ika menannyakan sebuah pertanyaan yang aneh. Apakah ini saatnya mereka mengetahui foto horor setan itu? Belum lah~

"Gimana kerasan gak tinggal sama Silvi?"

Nia yang mendengar itu menatap mata ni Ika tampak menyelidik ia seperti menunggu Nia menjawab pertanyaannya 

"saya tidak mengerti maksudnya ni apa yang coba ni tanyakan"

Nia yang mengajukan pertanyaan kembali kepada ni Ika hanya dijawab dengan kening mengkerut lantas mencoba membuang ekspresi penasaran itu Nia semakin curiga melihat gelagat yang cepat berubah itu seakan menutupi.

"Saya hanya tanya saja hal itu sama seperti yang lain apakah mereka betah sama teman sekamarnya yang jelas saya ingin rumah ini tetap kondusif saja tanpa ada yang ditutup-tutupi" sahut ni Ika ia mempersilahkan Nia pergi Nia berdiri membuka pintu sebelum ni Ika memangil lagi. 

"Kamu sudah berkeliling kan sudah tahu dimana saja dan tempat apa saja yang ada disini?" tanya ni Ika....

Nia mengangguk....

"Bagus begini Nia ibuk bisa minta tolong"

"Tolong apa ni," tanya Nia. "Kamu bisa menghindari untuk tidak datang ke lahan dibelakang rumah kan?" 

"Dibelakang rumah di kamar kosong yang berjejer di lorong itu kah ni?" sahut Nia.

"Iya" sahut ni Ika ia terlihat menyipitkan mata. "disana banyak ruangan tidak terpakai apalagi di lahan kosong setelah pintu terakhir bisa?"

"Kalau boleh tahu kenapa ni?" tanya Nia 

ni Ika diam lama lalu ia menjawab "karena disana ada sebuah kuburan pemilk dari yayasan ini sebelumnya paham nak.

Ilustrasi (Tanahnusantara.com)

Ni Ika tersenyum menutup pembicaraan itu membuat Nia merasa ia seperti mendapat peringatan secara tidak langsung dari sang pemimpin pamong di yayasan ini. 

Nia pergi setelah menutup pintu entah kenapa menatap lorong tiba-tiba membuatnya penasaran bila dilihat lagi lorong dan lahan kosong itu tidak jauh dari kamar yang diatasnya tidak dapat diakses dengan tangga dan memang benar Nia belum pernah sekalipun kesana.

 

Nia mendekati tempat itu perlahan-lahan kakinya menjajak diatas lantai ia mendekat semakin mendekat bahkan ia akan melewati kamar misterius itu sebelum.

"Iaaaaaa."

Nia berbalik mendapati Silvi memanggilnya ia masih mengenakan seragam sekolahnya. ia berdiri melihat Nia.

Silvi duduk diranjang Nia melepaskan satu persatu sepatu yang Silvi kenakan anak itu sedari tadi hanya melihatnya saja tanpa bicara tidak seperti Silvi yang biasannya.

"Kamu kenapa? kok diam saja daritadi" tanya Nia membuka percakapan.

"Aaas aaaa aoook aaaeeet," ucap Silvi 

"kamu bicara apa?" Nia bertanya lagi.

Silvi menunjuk-nunjuk sesuatu kemudian menggelengkan kepalanya dengan keras sembari tetap mengatakannya "aaaooook aaaaeeet!!"

Ia tidak pernah melihat ekspresi Silvi semarah ini lebih tepatnya seperti memperingatkan Nia 

"iya apa yang coba kamu katakan" Nia masih mencoba memahami. 

Namun Silvi terus menerus mengulangi kalimat itu diakhir percakapan mereka yang tidak menemukan hasil Silvi mencakar wajah Nia lalu ia pergi begitu saja seakan ia kesal karena Nia tidak mengerti maksud ucapannya. 

Malam telah tiba Nia membuka pintu ia mencoba menahan agar suara lonceng tidak berbunyi ia tidak mau membangunkan Silvi dari tidurnya sedari tadi Nia sudah menahan agar tidak perlu ke kamar mandi namun sial perutnya semakin sakit Nia pun akhirnya beranjak pergi sendiri. 

Sehati-hati bagaimanapun suara lonceng tetap berbunyi meski begitu Nia yakin Silvi tidak akan terbangun hanya karena suara yang sudah coba Nia redam sekecil mungkin.

Nia melihat kamar-kamar disampingnya sudah tertutup rapat lantas ia mulai menuju anak tangga menuruninnya.

 

Setiap langkah ketika Nia berjalan ia merasa setiap malam tempat ini seperti memberikannya sensasi yang berbeda dibanding siang.

Cahaya temberam dari cahaya lilin yang diletakkan dibeberapa sudut membuat Nia merasa kesal sekaligus ngeri kegelapan seakan menelannya bulat-bulat. 

Nia membuka pintu kamar mandi ada 4 pintu yang memang dibuat agar anak-anak tidak berebut saat pagi sebelum keberangkatan ke sekolah.

Saat Nia mencoba membuka pintu pertama ia tidak dapat membukannya dibawah pintu terlihat bayangan seseorang disana.

Nia memilih pintu disebelah, tepatnya disebelah persis pintu pertama.

Nia mendengar suara air berkecimpuk disana namun tidak ada suara apapun selain itu membuat Nia terjebak dalam suasana canggung yang membuatnya hanya bisa diam sembari fokus dengan kegiatannya. 

Sampai terdengar suara tertawa dari anak-anak membuat pikiran Nia buyar dan mendengarkannya dengan seksama.

Suaranya nyaris seperti suara anak-anak lain disini namun suara ini membuat Nia tidak nyaman dibuatnya. 

Nia menempelkan telinganya mencoba mendengar lebih jelas suara itu apakah benar-benar berasal dari pintu pertama namun hening sampai dari pintu ketiga suara tertawa terdengar lagi Nia yang mendapati kejadian itu terhenyak sesaat sebelum buru-buru menyelesaikan kegiatannya.

Nia membuka pintu langkah kakinya cepat buru-buru meninggalkan tempat itu namun bayangan seakan ada yang mengikuti membuat Nia tidak berhenti melihat siapa yang ada dibelakangnya.

Ia buru-buru naik anak tangga saat satu kakinya terpeleset setelah merasakan sebuah sentuhan. Apakah foto horor akan nampak?

 

Nia berteriak rasa sakit luar biasa ketika kakinya menghantam tangga kayu membuat Nia tidak dapat menahannya lagi.

Namun saat Nia memeriksa luka memar di kakinya ia mendapati suara tawa itu lagi kali ini sumber suara ada diujung anak tangga tempat dimana kamar Nia berada.

 

Diujung anak tangga Nia melihat sosok anak-anak tengah berembung melihat Nia darisana wajah dan bagian tubuhnya tertutup kegelapan manakala Nia memperhatikan mereka perlahan mereka pergi namun masih dengan suara tawa yang mengerikan itu.

 

Meski dengan kaki tertatih Nia mencoba naik sesampai ia di pintu kamarnya seseorang membuka pintu Nia bisa melihat Silvi seakan sudah menungguinya.

"uaaaa aau iiiaaakk," katanya.

Nia hanya melewati Silvi sembari membatin "si Anak."

"Siapa itu si Anak?" batin Nia. Terdengar suara seseorang membentak dari luar kamar suaranya menyeruak seakan ia sedang bercakap dengan yang lain namun hanya ada satu sumber suara yang terdengar mendominasi.

Seakan-akan kelakar amarah itu hanya ditumpahkan saja. Nia terbangun. matanya menatap bayangan di pintu.

Ilustrasi (jogja.tribunnews.com)

Perlahan gerak tubuh Nia mulai bangkit ia menyibak selimut menurunkan kaki. namun rasa nyeri membuat Nia mengernyit menahan sakit. kakinya.

Nia melihat kakinya ia tidak tahu bila memar yang ia dapat rupanya separah ini. warnanya ungu dengan bentuk menonjol yang mengerikan. 

meski rasa sakit itu menusuk daging Nia.

Berjinjit mendekati pintu ia ingin menguping apa yang sedang mereka bicarakan siapa yang berkelakar Nia menepi dinding melihatnya dari celah pintu yang sudah terbuka sebelumnya.

disana Nia melihat Silvi dengan ni Ika. 

"KAMU APA BELUM PUAS KAMU BIKIN TAKUT SETENGAH MATI TEMANMU DULU UNTUK KALI INI HENTIKAN SILVI!! JANGAN LAKUKAN ITU LAGI. YA" bentak ni Ika....

Hah puas menakuti? Apa yang dimaksud sama Ni Ika ya di cerita foto horor setan ini? 

Cerita Foto Horor Setan: Pengalaman Pribadi Yang Mengerikan bersambung....

Ilustrasi (malangtimes.com)