5 Puisi Hari Ibu Ini Bikin Perasaan Berdesir, Tulus Banget!

Puisi Hari Ibu dibuat dengan tulus. Yang 5 ini sudah pasti bikin perasaanmu berdesir.

Serangkaian kata dalam sebuah puisi dibuat berdasarkan perasaan yang tulus. Puisi Hari Ibu salah satu temanya. Kamu menyiapkan hadiah apa buat ibu?

Berdasarkan nukilan lagu 'kasih ibu tak mengharap kembali'. Meskipun begitu, dengan beberapa larik kata kamu bisa menggambarkan perasaanmu padanya. Ya, sedikit harapan berisi kebaikan nggak ada salahnya dituliskan bukan?

Simak 5 judul puisi hari ibu di bawah ini, siapkan perasaanmu ya.

1. Ibu karya K.H. Mustofa Bisri

Ibu, Kaulah gua berteduh
tempatku bertapa bersamamu
sekian lama

Kaulah kawah
dari mana aku meluncur
dengan perkasa

Kaulah bumi
yang tergelar lembut bagiku
melepas lelah dan nestapa
gunung yang menjaga mimpiku
siang dan malam

mata air yg tak pernah berhenti mengalir
membasahi dahagaku
telaga tempat bermain
berenang dan menyelam

Kaulah ibu, laut dan langit
yang menjaga lurus horisonku

Kaulah ibu, mentari dan rembulan
yang mengawal perjalananku
mencari jejak surga
di telapak kakimu

Tuhan, aku bersaksi
ibuku telah melaksanakan amanat-Mu
menyampaikan kasih sayang-Mu
maka kasihanilah ibuku
seperti Kau mengasihi kekasih-kekasih-Mu.

Puisi yang ditulis oleh KH. Mustofa Bisri ini menggambarkan ibu adalah alam semesta. Berdasarkan genre, puisi ini bisa disebut sebagai puisi naturalis atau berbasis realis.

Ibu, dalam puisi tersebut adalah gua, gunung, kawah, laut, langit, mentari, rembulan, telaga, mata air dan bumi. Puisi hari ibu di atas ditutup dengan sebuah permohonan kepada Yang Kuasa untuk mengasihi ibu. Apa permohonanmu untuk ibumu?

(brilio.net)

2. Sajak Ibu karya Wiji Thukul

Wiji Thukul bernama asli Wiji Widodo. Pria aktivis ini hilang sejak peristiwa 1998 dan tidak ditemukan sosoknya hingga sekarang. Puisi berjudul 'Sajak Ibu' di atas ditulis pada tahun 1996. Pilihan bahasanya cukup sederhana dan jujur.

(imgrumweb.com)

3. Ibu karya Kahlil Gibran

Ibu adalah segalanya, dialah penghibur di dalam kesedihan
Pemberi harapan di dalam penderitaan, pemberi kekuatan di dalam kelemahan
Dialah sumber cinta, belas kasihan, simpati dan pengampunan

Manusia yang kehilangan ibunya berarti kehilangan jiwa sejati yang memberi berkat
dan menjaganya tanpa henti

Segala sesuatu di alam ini melukiskan tentang susuk ibu
Matahari adalah ibu dari planet bumi yang memberikan makanannya dengan pancaran panasnya

Matahari tak pernah meninggalkan alam semesta pada malam hari
sampai matahari meminta bumi untuk tidur sejenak di dalam nyanyian lautan dan siulan burung-burung dan anak-anak sungai

Dan Bumi ini adalah ibu dari pepohonan dan bunga-bunga menjadi ibu
yang baik bagi buah-buahan dan biji-bijian

Ibu sebagai pembentuk dasar dari seluruh kewujudan dan adalah roh kekal, penuh dengan keindahan dan cinta

Ibu dalam puisi Kahlil Gibran menggambarkan tentang ketulusannya. Puisi hari ibu di atas bisa menginspirasi dan meletakkan seseorang pada ruang reflektif.

(indiatoday.in)

4. Puisi Ibu karya Chairil Anwar

Pernah aku ditegur
Katanya untuk kebaikan
Pernah aku dimarah
Katanya membaiki kelemahan
Pernah aku diminta membantu
Katanya supaya aku pandai

Ibu.....
Pernah aku merajuk
Katanya aku manja

Pernah aku melawan
Katanya aku degil

Pernah aku menangis
Katanya aku lemah

Ibu.....
Setiap kali aku tersilap
Dia hukum aku dengan nasihat

Setiap kali aku kecewa
Dia bangun di malam sepi lalu bermunajat

Setiap kali aku dalam kesakitan
Dia obati dengan penawar dan semangat
dan bila aku mencapai kejayaan
Dia kata bersyukurlah pada Tuhan

Namun.....
Tidak pernah aku lihat air mata dukamu
Mengalir di pipimu
Begitu kuatnya dirimu....

Ibu.....
Aku sayang padamu....

Tuhanku....
Aku bermohon pada-Mu
Sejahterakanlah dia
Selamanya.....

Dalam dunia sastra, Chairil Anwar dianggap sebagai pelopor Angkatan '45. Ia juga dianggap sebagai pelopor puisi modern yang lepas dari rima dan baris. Pada tahun 1940, ia pindah domisili dari Medan ke Jakarta bersama ibunya.

Itu artinya, Chairil mempunyai kedekatan dengan ibu. Ia tahu betul ibunya berperan besar dalam inspirasi tulisannya.

(thefamouspeople.com)

5. Bunda Airmata karya MH Ainun Najib

Kalau engkau menangis
Ibundamu yang meneteskan air mata
Dan Tuhan yang akan mengusapnya

Kalau engkau bersedih
Ibundamu yang kesakitan
Dan Tuhan yang menyiapkan hiburan-hiburan

Menangislah banyak-banyak untuk Ibundamu
Dan jangan bikin satu kalipun untuk membuat Tuhan
naik pitam kepada hidupmu

Kalau ibundamu menangis, para malaikat menjelma
butiran-butiran air matanya
Dan cahaya yang memancar dari airmata ibunda
membuat para malaikat itu silau dan marah
kepadamu

Dan kemarahan para malaikat adalah kemarahan suci
sehingga Allah tidak melarang mereka tatkala
menutup pintu surga bagimu

MH Ainun Najib atau biasa kita kenal dengan Cak Nun dalam puisi di atas kental dengan suasana Islami. Puisi di atas bisa membuat seseorang 'kenal' tentang tangisan seorang ibu. 

Puisi hari ibu di atas bisa kamu cermati hingga menginspirasi. Bisa juga menjadi ruang instrospeksi dalam relasimu dengan ibumu.

(koran-jakarta.com)